JOGJA – Suasana berbeda begitu terasa di kawasan Malioboro kemarin (26/9). Tak tampak hiruk-pikuk aktivitas niaga di sepanjang trotoar selama seharian penuh. Mulai Teteg Sepur Stasiun Tugu hingga Gedung Agung. Pun demikian trotoar sisi timur dari Hotel Inna Garuda sampai Benteng Vredeburg. Di hari-hari biasa, tak kurang tiga ribu pedagang kaki lima (PKL) memadati kawasan Malioboro dari pagi hingga malam. Itu belum termasuk kusir andong, penarik becak, dan seniman jalanan.

Nuansa lain di ikon wisata Kota Jogja itu akan terus terjadi setiap selapan pisan (sekali dalam 35 hari penanggalan Jawa, Red). Tepatnya pada Selasa Wage. Itu telah menjadi komitmen seluruh komunitas yang setiap hari gergelut di kawasan Malioboro. Momentum itu mereka namakan Reresik Malioboro. Hal ini sekaligus untuk menyambut HUT ke-261 Kota Jogja.
Sekilas tak ada yang keberatan dengan kegiatan tersebut.
Mereka yang terdampak aksi “Selasa Wagenan” itu pun menyambut positif Reresik Malioboro.

Seperti disampaikan Wakil Ketua Paguyuban Pelukis, Perajin, dan PKL Malioboro-Ahmad Yani (Pemalni) Pujono. Kegiatan bersih-bersih Malioboro diharapkan tak hanya melibatkan mereka yang menjalankan bisnis kecil-kecilan di pinggir pertokoan. Para pemilik toko dan pengelola supermarket juga harus dilibatkan. Kendati demikian, Pujono berharap Reresik Malioboro tak berhenti pada kegiatan kebersihan. Tapi diisi kegiatan lain yang membuat Malioboro tetap semarak.

“Kalau bisa setiap Selasa Wage juga ada aktivitas yang bisa mengundang wisatawan. Supaya nantinya bisa jadi agenda liburan,” katanya. Pemalni yang memiliki anggota hingga 400-an orang, lanjutnya, siap mendukung gebrakan baru tersebut.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X pun berharap kawasan Malioboro bisa menjadi ruang ekspresi seninam Jogja. Dengan begitu, Malioboro tak hanya menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pariwisata. Tapi ada nilai tambah untuk seni dan kebudayaan.

“Hasil karya seniman patung bisa dipajang di sini (Malioboro). Yang berbahan kertas seklaipun. Itu akan jadi kekautan baru untuk dipromosikan,” tuturnya di sela meninjau kegiatan Reresik Malioboro.

Reresik Malioboro dimulai Selasa (26/9) dini hari pukul 00.00. Ditandai dengan pemukulan kentongan oleh Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) dan Wakil Wali Kota Heroe Poerwadi (HP).

HS mengklaim, jeda istirahat bagi PKL dan semua pengais rezeki di Malioboro tak akan merugikan mereka. “Hanya sehari saja. Ini sebagai bentuk penghormatan pada tempat kita mencari nafkah,” ujarnya mengawali Reresik Malioboro.

Malioboro sengaja diistirahatkan untuk memberikan suasana lain bagi wisatawan. Sekaligus memperlama kunjungan mereka di Jogjakarta. “Makanya kalau ke Jogja jangan hanya sehari. Rasakan Malioboro yang biasanya dan sehari lagi menjajal Malioboro yang bebas PKL,” ucap HP menambahkan.

HP menegaskan, kegiatan tersebut bukan berarti menghilangkan PKL Malioboro. Alasannya, PKL telah menjadi ciri khas tersendiri di kawasan tersebut.

Ketua Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro (PPLM) Sukidi mengatakan, aksi merawat Malioboro memang diperlukan. Meski harus kehilangan pendapatan antara Rp 1 juta – Rp 2 juta, libur satu hari tak menjadi soal. “Ini sebenarnya program lama, namun baru bisa direalisasikan sekarang,” ujarnya.

Sementara itu, saat para PKL Malioboro tak beraktivitas Forum Taaruf Istimewa (Fortais) memanfaatkan momentum tersebut untuk menggelar pernikahan unik. Ada delapan pasangan yang dinikahkan di atas mobil pemadam kebakaran. Maharnya cukup melafalkan Pancasila sebelum diijabkan oleh penghulu dari Kantor Urusan Agama Danurejan. (pra/yog/ong)