GUNUNGKIDUL – Pemprov DIJ terus melakukan normalisasi jalan penghubung antar destinasi wisata. Tahun ini tengah dikebut proyek infrastruktur penghubung Sleman dengan Gunungkidul melalui Jembatan Gembyong, Desa Ngoro-oro, Kecamatan Patuk.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PUPRKP) Gunungkidul Eddy Praptono mengatakan proyek tersebut dari provinsi. Sementara Pemkab Gunungkidul bertugas untuk pembebasan lahan.

“Jembatan dan jalan baru itu akan menjadi akses baru wisatawan Prambanan-Candi Boko dan Gunung Api Purba Nglanggeran,” kata Eddy kemarin (24/9).

Dia menjelaskan, untuk Gunungkidul pembangunan jalan penghubung dengan Sleman tuntas tahun ini. sementara di Sleman baru 700 meter atau masih sekitar tiga kilometer lagi untuk diselesaikan.
“Akses jalan di Sleman yang perlu dinormalisasi dan diperlebar,” ujar Eddy.

Kepala Sub Bagian Pertanahan dan Pengendalian Wilayah Bagian Administrasi Pemerintahan Umum Surono mengatakan proses pembebasan lahan dilakukan sejak awal tahun. Namun karena ada beberapa kendala, pembayaran ganti rugi baru cair 29 November 2016.

“Sebanyak 91 warga pemilik 81 bidang lahan di Desa Ngoro-oro merelakan tanahnya dibeli pemerintah,” kata Surono.
Total dana ganti rugi, kata dia, mencapai Rp 7,1 miliar. Sementara total luas lahan warga Ngoro-oro yang dilepas 21.247 m2. Dana yang digelontorkan untuk 81 bidang tanah mencapai Rp 7,1 miliar.

Sebelumnya, Bupati Gunungkidul Badingah optimistis sektor pariwisata akan terus eksis di masa depan. Pemerintah setempat terus membangun insfrastruktur demi kenyamanan pengunjung.

Terdapat dua jalur alternatif yang tengah dibangun yakni jalur Sleman-Gunungkidul melalui Prambanan-Gading, dan jalur alternatif penghubung Klaten dengan Gunungkidul melalui Cawas.

Tembusan dari Bokoharjo, Prambanan, Sleman, melewati Jembatan Gembyong, Nglanggeran, kemudian Ngalang, dan terakhir sampai di Gading, Playen, Gunungkidul. Jalur Prambanan sampai Gading diperkirakan Oktober selesai.
“Nanti juga akan dibangun jalur penghubung sampai ke JJLS (Jalur Jalan Lintas Selatan),” kata Badingah. (gun/iwa/ong)