SLEMAN – Kepala Disbud Sleman Aji Wulantara mengatakan belum semua warga Sleman memahami filosofi garis imajiner. Terutama generasi muda yang memiliki peran sebagai pelestari budaya.

Kemasan kegiatan bertajuk Festival Garis Imaginer Tahun 2017 diselenggarakan dari kemarin (21/9) hingga besok (23/9). Bertempat di bawah Jembatan Baru UGM. Menyajikan tiga kegiatan, karnaval budaya, pergelaran seni kerakyatan dan pertunjukan budaya.

“Kenyataannya memang seperti itu, bahwa sejarah dan filosofi garis imajiner belum semuanya tahu. Terlebih dinamika semakin cepat, sehingga info-info tradisi seperti ini kurang terserap dengan baik,” ujar Aji saat membuka kegiatan kemarin (21/9).

Aji menjelaskan garis imajiner membentang dari Gunung Merapi, Tugu Jogjakarta, Keraton Jogjakarta hingga Pantai Parangkusumo. Makna yang terkandung dalam garis imajiner sangat bernilai. Gunung Merapi dalam mitologi Jawa dikenal sebagai swarga pangrantunan.

Tugu merupakan patokan arah Sultan dalam melakukan meditasi yang menghadap ke Gunung Merapi. Awalnya bangunan ini berbentuk golong gilig. Makna Tugu yang dibangun era Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah manunggaling kawula gusti.

Dengan kata lain pemersatu rakyat dan penguasa. Secara keseluruhan dari Gunung Merapi hingga Pantai Parangkusumo memiliki arti yang sangat penting bagi Keraton Jogjakarta. Keraton merupakan titik keseimbangan antara api yang dilambangkan Merapi dan air yang disimbolkan sebagai Parangkusumo.

“Memaknai hubungan manusia dengan manusia maupun manusia dengan penciptanya,” jelasnya.

Pawai pembuka diikuti 34 kelompok asal Sleman. Selain melibatkan drumband, kelompok seni, kelompok masyarakat dan bregada prajurit tradisional adapula bregada prajurit Polres Sleman. Uniknya selain mengenakan seragam dinas, para polisi juga mengenakan blangkon dan kain selempang.

Pawai karnaval berbeda dengan karnaval umumnya. Terbagi tiga kelompok yang berangkat dari tiga penjuru. Seluruh rombongan pawai berkumpul di bawah Jembatan Baru UGM. Di lokasi ini tersaji panggung kesenian yang menghadirkan seniman-seniman.

Setiap harinya selama tiga hari akan menyajikan pentas potensi seni. Baik itu dari kelompok maupun sanggar seni hingga seniman. Ada seni tari, kethoprak hingga wayang kulit dengan delapan dalang.

“Dalang senior ada Ki Edy Suwondo, Ki Bayu Sugati, Ki Sutikno dan 5 dalang cilik Zaky Kaditama, Adtya Sandhi Sadewa, Bernadetha Astri Putri N, Giang Bayu Tetuko, dan Davin Mahatma,” katanya. (dwi/iwa/ONG)