JOGJA – Ratusan warga Jogjakarta dan sekitarnya mengikuti lampah budaya Mubeng Beteng tadi malam (21/9). Lampah budaya ini dilakukan untuk memperingati 1 Muharam atau 1 Suro.

Mereka menempuh jarak sekitar empat kilometer dengan rute dari Bangsal Ponconiti di Pelataran Keben ke barat melewati Kecamatan Kraton menuju Alun-Alun Utara.

Kemudian belok kiri menuju Pojok Beteng barat ke Pugeran melewati Plengkung Gading. Dilanjutkan ke arah timur hingga Pojok Betengtimur, lalu melewati Jalan Brigjen Katamso lanjut ke Jalan Ibu Ruswo dan kembali ke Keraton Jogja.
Winongko Carik Tepas Ndoro Puro KRT Wijoyopamungkas menuturkan, agenda kirab budaya mubeng beteng dengan lampah bisu ini diawali dengan macapatan. “Macapatan ini berisi doa-doa kepada Allah SWT,” ujarnya tadi malam.

Wijoyopamungkas menjelaskan, doa-doa ini sebagai evaluasi dan mawas diri agar ke depan ada kesejukan. Itu mengingat kondisi Indonesia pada saat ini yang cukup memanas dengan banyaknya aksi intoleransi dan lainnya. “Doa dari Jogjakarta untuk Indonesia,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, aksi keliling beteng keraton sembari topo bisu ini bukannya tanpa makna. Topo bisu bukan berarti diam tanpa kata saja. Tetapi dalam diam tersebut ada doa. “Doa yang diucapkan dalam hati, agar tahun depan kondisi bisa lebih ayem, ayom, dan tenterem,” tandasnya.

Terkait peserta mubeng beteng, Wijoyopamungkas menuturkan tidak hanya abdi dalem Keraton Jogja saja yang ikut. Tetapi masyarakat umum. Bahkan ada pula yang dari Jakarta, Cirebon, dan Solo.

Pantauan Radar Jogja, ratusan Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) Paksi Katon sudah mulai berjaga di depan Kagungan Dalem Bangsal Ponconiti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak petang.

Sejumlah 160 personel Paksi Katon DIJ dikerahkan untuk menjaga kelancaran jalannya lampah budaya. “Ini ada yang datang sukarela dari Magelang sepuluh orang,” jelas salah satu anggota Paksi Katon Endang Suhud, yang juga merupakan istri ketua Paksi Katon.

Ploting personel keamanaan Paksi Katon ditempatkan di setiap penggalan jalan. “Ada di Tamansari, Pojok Beteng Wetan dan Kulon, Gondomanan, Wijilan, Pangurakan, serta Alun- Alun,” jelas Wakil Koordinator FKPM Paksi Katon Wawan Sumaryanto.

Salah seorang peserta lampah budaya Waridah, 48, dan Ngatinem, 54, sengaja datang gasik untuk bisa ikut mendengarkan senanndung doa lewat macapat yang dilantunkan bergantian. Ini tahun ketiga bagi Waridah dan Ngatinem mengikuti prosesi Lampah Budaya Mubeng Benteng.

Di sisi lain, dalam memperingati 1 Suro diadakan pula Kirab Siwur Imogiri, kemarin (21/9). Sebanyak delapan gunungan kakung diperebutkan warga.

Delapan gunungan dari delapan desa di Kecamatan Imogiri yakni Imogiri, Wukirsari, Girireja, Karangtalun, Karangtengah, Kebonagung, Sriharja, Selopamioro diarak dari Terminal Imogiri hingga Terminal Pajimatan.
Staf Bagian Sosial Budaya dan Kemasyarakatan Bantul Bayu Harjono bertindak sebagai pengageng upacara (pemimpin upacara) mewakili Wakil Gubernur DIJ.

Melalui kesempatan tersebut, dia mengajak masyarakat untuk mengembangkan serta melestarikan kebudayaan Kirab Siwur sebagai warisan budaya.

Ketua Panitia Kirab MP Sudirjopranoto menuturkan, Kirab Siwur yang ke-18 ini diadakan setiap tahun pada bulan Suro. Kirab ini mempertemukan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta. “Makam Imogiri ini menjadi wilayah Pakubuwono (Kasunanan Surakarta) dan Sultan (Kasultanan Jogjakarta),” jelasnya.

Sementara itu, di Kompleks Makam Raja Mataram Kotagede kemarin (21/9) dilakukan tradisi Jenang Suran oleh abdi dalem Keraton Jogjakarta dan abdi dalem Kasunanan Surakarta.

Acara diawali dengan salawat. Kemudian kirab gunungan hasil bumi dari depan gerbang masuk Makam Raja Kotagede, setelah itu acara berlanjut dengan tahlil dan zikir.

Tradisi yang sudah berlangsung turun temurun sejak zaman Sultan Agung Hanyorokusumo ini merupakan bentuk simbolis untuk membuang segala sesuatu yang bersifat keburukan manusia yang diwujudkan dalam jenang putih sayur krecek dilengkapi dengan kedelai hitam yang disebut sebagai jenang suran atau jenang panggul.

Carik Makam Raja Mataram Kotagede Hastono Sastro Purwanto mengatakan, jenang suran yang dibagikan kepada seluruh pengunjung ini memiliki filosofi sebagai bentuk harapan agar ke depan menjadi lebih baik. (dya/mg3/mg4/sky/ila/ong)