Geliat Warga Gunungkidul Menghadapi Kemarau Panjang

Kemarau panjang sungguh membuat sebagian warga Gunungkidul kelimpungan. Mereka mengalami krisis air bersih. Butuh biaya ekstra untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup setiap hari.
GUNAWAN, Gunungkidul
Jam dinding telah menunjukkan pukul 22.00. Saat sebagian besar orang mulai terlelap tidur, tidak demikian dengan warga Padukuhan Tekik, Nglindur, Girisubo, Gunungkidul. Senin (18/9) malam itu mereka tengah “sibuk”. Tiap kepala keluarga (KK) tampak hilir mudik dari rumah ke tempat parkir truk pengangkut tangki air. Demi mendapatkan air bersih mereka harus rela antre berjam-jam di sekitar truk. Hanya demi satu jeriken air isi 10 liter. Itulah suasana droping air oleh Badan

Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul. Belum juga truk terparkir sempurna, warga sudah menyerbu dan mengepungnya. Mereka rela begadang sampai pagi demi menekan biaya kebutuhan rumah tangga. Sebab, untuk mendapatkan air secara mandiri mereka harus merogoh kocek lebih dalam.

Bagaimana tidak, demi mendapatkan satu tangki air berkapasitas lima ribu liter secara mandiri dibutuhkan dana antara Rp 100 ribu – Rp 120 ribu. Bagi keluarga kecil yang hanya terdiri atas suami-istri dan seorang anak, air satu tangki mungkin bisa digunakan hingga sebulan. Keluarga besar dengan anggota lebih dari lima jiwa tentu saja butuh lebih banyak. Satu tangki air bisa habis hanya dalam seminggu.

Meski sebagian wilayah Nglindur telah tersambung jaringan perusahaan air minum yang berasal dari sumber di wilayah Bribin. Kenyataannya, suplai dari sumber air bawah tanah itu belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di zona kekeringan tersebut secara merata.

“Krisis air bersih sejak Mei lalu kian parah. Sulitnya mendapatkan pasokan dari luar,” kata Suwanto, warga setempat, sambil menunggu giliran jerikennya diisi.

Sejauh ini warga Tekik mengandalkan air bersih dari hujan yang ditampung di bak-bak penampungan. Saking lamanya tak diguyur hujan, bak penampungan pun mengering. “Sampai saat ini saya terpaksa beli air dari swasta. Sudah tujuh tangki. Harganya Rp 100 ribu per tangkinya,” sambung Suwanto.

Mengingat betapa krusialnya ketersediaan air, droping dan bantuan dari pemerintah tak boleh digunakan sembarangan. Warga harus irit memakai air. “Hanya untuk kebutuhan utama, seperti memasak, mencuci, mandi, dan kebutuhan ternak seadanya,” tutur Dukuh Tekik Suranto.

Distribusi air ke Gunungkidul memang bukan hal mudah. Jalanan berliku penuh tanjakan dan turunan cukup membuat repot armada tangki. Belum lagi lalu lintas perkotaan Bumi Handayani yang lumayan padat karena menjadi jalur wisata. Belum lagi lokasi pengambilan air dari sumber yang terletak di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah. Butuh waktu sekitar dua jam untuk sekali pengiriman.

Petugas BPBD Gunungkidul pun harus wara-wiri karena permintaan droping air memang meningkat. Karena itulah droping air butuh waktu lama hingga malam hari.

“Tiap armada hanya mampu mendistribusikan air bersih sebanyak lima kali per hari. Sumber di Wonogiri itu sudah yang paling dekat,” kata Suparwanto, staf BPBD Gunungkidul. (yog/ong)