JOGJA – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengingatkan bangas Indonesia untuk tak melupakan fakta sejarah. Rakyat Indonesia bisa maju seperti sekarang tak lepas oleh perjuangan para pahlawan dalam meraih kemerdekaan. Dengan tak melupakan sejarah, Gatot optimistis, bisa menjadi jurus ampuh dalam membendung pengaruh negatif dari luar.

Maupun paham-paham tertentu yang berusaha merusak ideologi bangsa. “Melalui sejarah bangsa ini menjadi besar. Melupakan sejarah berarti kebudayaan luar siap mempengaruhi budaya kita sendiri,” tutur jenderal bintang empat itu usai ziarah makam Jenderal Soedirman di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara kemarin (19/9).

Lebih lanjut Gatot mencontohkan gotong royong. Budaya ini tidak ada di negara lain. Nah, untuk mempertahankan persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Gatot mengajak masyarakat bersama-sama dan bersinergi dengan TNI. “Rakyat bersama TNI pasti kuat,” ujar sosok kelahiran Tegal 57 tahun lalu.

Dalam kesempatan itu Gatot menampik kegiatan yang dilakukannya di Jogjakarta sebagai bagian kampanye pencalonan dirinya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Menurutnya, ziarah ke makam para pahlawan telah menjadi agenda rutin prajurit TNI menyambut hari ulang tahun (HUT). Termasuk dalam peringatan HUT ke-72 tahun ini. “Nggak..tak ada kaitannya dengan pilpres. Siapa juga yang akan mencalonkan saya,” kelit perwira tinggi yang berulang tahun tiap 13 Maret itu.

Ziarah di TMP Kusumanegara diawali dengan upacara singkat sebagai penghormatan kepada arwah para pehlawan. Saat berada di pusara Jenderal Soedirman, Gatot didampingi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi, dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Gatot memandang Jenderal Soedirman sebagai sosok yang sederhana dan dekat dengan prajurit. Sebagai panglima termuda yang meninggal pada usia 34 tahun lebih lima hari, Soedirman layak menjadi contoh bagi para prajurit TNI.
“Beliau tetap gigih berjuang dengan setengah paru-paru dan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia ada,” puji Gatot.

Oleh Jenderal Soedirman pula doktrin bahwa TNI lahir dari rakyat dan berjuang bersama dengan rakyat. Bagi Gatot, rakyat adalah ibu kandung TNI. Meski zaman sudah berubah, tentara harus benar-benar berjuang untuk rakyat.
“TNI tidak berjuang ikut memerdekakan bangsa, tapi rakyatlah yang berjuang memerdekakan bangsa. Karena TNI terlahir setelah proklamasi kemerdekaan,” jelasnya.

Sebelum nyekar ke makam Jenderal Soedirman, panglima TNI dan rombongannya juga berziarah ke makam presiden ke-2 RI Soeharto di Kompleks Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah. Sementara hari ini, Gatot Nurmantyo melanjutkan lawatannya ke taman makam pahlawan prajurit-prajurit TNI di Dili dan Baucau di Timor Leste. (bhn/yog/ong)