MUNGKID – Suasana persaingan global saat ini dinilai semakin sengit. Kompetisi antarnegara semakin menjadi-jadi. Dengan demikian, diperlukan adu kecerdasan, kreativitas, inovasi, dan adu kecepatan.

“Itu tantangan ke depan yang dihadapi,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri pembukaan Perkemahan Wirakarya Pramuka Maarif NU Nasional (Perwimanas) II di Lapangan Tembak Akmil, Kecamatan Salaman, kemarin (18/9).

Jokowi mengungkapkan, era keterbukaan seperti saat ini penuh dengan tantangan. Penggunaan media sosial pun harus disikapi dengan bijak. “Semua boleh mengabarkan, tapi jangan hanya yang jelek dan mencela. Itu juga menjadi tantangan semua pihak,” ungkapnya.

Menurutnya, inilah tantangan yang perlu disikapi dengan pondasi yang kuat. Dengan pondasi karakter yang baik, dia meyakini bangsa Indonesia mampu menatap masa depan dan memenangkan kompetisi. Sebab, basis karakter itu sudah ada. Acara Perwimanas juga dinilai salah satu upaya untuk membentuk pondasi karakter yang baik.

“Bagaimana kita beradu cepat dengan negara lain. Kalau tidak, kita ditinggal,” jelasnya di hadapan ribuan siswa yang datang dari berbagai daerah ini.

Presiden dari Solo, Jawa Tengah ini mengingatkan, Indonesia adalah negara besar. Memiliki sekitar 1.100 bahasa lokal, 34 provinsi, 17 ribu pulau, dan 714 suku. Sebagai negara besar, tantangan mengelola negara Indonesia dinilai tidak mudah. Namun demikian, dia meyakini dengan menjalin hubungan baik diantara saudara tanah air, bisa menyelesaikan persoalan yang ada.

“Jika tidak siap lompatan kemajuan, kecepatan inovasi, selanjutnya akan tertinggal. Jangan pernah merasa puas apa yang sudah dicapai,” pesannya.

Terpisah, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan, akhir-akhir ini konflik yang dilatarbelakangi sentimen suku, agama, ras dan agama (SARA) semakin meningkat. Perlahan tapi pasti, hawa konflik di Irak, Suriah, dan Myanmar telah turut mereduksi komitmen kebangsaan warga Indonesia.

“Hal ini ditunjukkan dengan berbagai gerakan intoleran yang terjadi akhir-akhir ini,” jelasnya.

Said mengatakan, sebagai penerus perjuangan ulama, sudah sepantasnya nilai-nilai kebangsaan berbasis agama yang dibangun para pendahulu, ditanamkan kepada segenap generasi muda. Dengan demikian, adanya kegiatan ini dinilai hadir di saat yang tepat. Saat generasi muda bangsa ini dihadapkan kepada berbagai tantangan toleransi.

“Melalui kegiatan ini, membentengi pemahaman yang merusak negara,” kata Said.

Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (PP LP Maarif NU) KH Arifin Junaidi menjelaskan, kemah yang diadakan LP Maarif NU merupakan agenda rutin dua tahunan. LP Maarif merupakan lembaga tertua yang dimiliki PBNU dengan menginjak usia yang ke 88 tahun.

Sekitar 15 ribu peserta mengikuti upacara pembukaan kemarin. Mereka terdiri dari enam ribu peserta kemah dan sembilan ribu guru serta peserta didik Maarif NU dari seluruh Indonesia. Adapun LP Maarif menaungi sekitar 21 ribu sekolah dan madrasah, mulai SD-SMA di Nusantara.(ady/ila/ong)