\KULONPROGO – Warga yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT) belum mendapatkan kepastian relokasi. Padahal mereka merupakan warga terdampak NYIA.

WTT tadinya tetap menolak pembangunan bandara. Belakangan, mereka mau menerima nasib tergusur terkena proyek bandara. Terpaksa mendapat penanganan terakhir.

Lahan relokasi di lima lokasi sudah penuh dan tidak ada lagi jatah kapling yang bisa dipakai anggota WTT. Ada tiga anggota WTT yang beruntung menempati kapling di lahan relokasi Glagah, namun anggota WTT lainnya belum ada kepastian relokasi.

Pemkab Kulonprogo berencana merelokasi mereka ke lahan PAG dengan sistem Magersari. Pihak Pura Pakualaman sudah menyiapkan lahan di Kedundang seluas sekitar 6.000 meter persegi untuk 50 unit rumah. Namun semuanya bagi warga terdampak bandara yang tergolong kurang mampu, bukan anggota WTT.

“Saya akan coba mengajukan usulan kembali untuk alokasi bidang PAG lainnya yang bisa dipakai untuk relokasi anggota WTT,” kata Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo kemarin (18/9).

Ada delapan anggota WTT terdampak pembangunan bandara yang berharap terfasilitasi program relokasi dari pemerintah daerah. Mereka golongan warga kurang mampu.

Adapun sembilan anggota WTT yang hingga saat ini masih juga menolak lahannya tergusur pembangunan NYIA. Hasto akan datang secara pribadi untuk berdialog, Rabu (20/9).

“Saya akan berupaya semaksimal untuk menghindari upaya penggusuran paksa. Saya akan datang ke rumahnya, rembugan dulu karena meski jumlahnya sedikit tapi tetap perlu diuwongke,” ujar Hasto.

Ketua WTT Martono mengatakan delapan warga yang menginginkan masuk program relokasi berasal dari golongan tidak mampu. Tak memungkinkan punya hunian baru secara mandiri. Sementara anggota WTT lainnya memilih pindah rumah sendiri.

Sebagian warga bingung karena PT AP I sudah mendesak warga segera pindah. Solusi terdekat yang bisa dilakukan yakni menampung delapan warga WTT di rumah famili. (tom/iwa/ong)