SLEMAN – Anak di bawah umur kembali menjadi korban pelecehan seksual. Sebut saja, Kencur. Gadis 15 tahun ini menjadi korban pencabulan seorang pria asal Magelang, MB,26, di sebuah penginapan wilayah Pakem, Sleman, Minggu (10/9).
Terbujuk janji manis akan dinikahi, Kencur pun rela menyerahkan kehormatannya kepada pelaku.

“Korban awalnya menolak, meski akhirnya luluh oleh bujuk rayu pelaku,” ungkap Kapolsek Pakem Kompol Haryanta kemarin (19/9).

Adapun kasus tersebut dilaporkan ke Polsek Pakem oleh orang tua Kencur, Senin (11/9). Menurut Haryanta, orang tua Kencur membuat laporan polisi setelah curiga dengan kondisi anaknya. Kecurigaan pelapor setelah mengetahui anaknya pulang ke rumah dengan diantar pelaku sekitar pukul 11.00. Atau siang hari setelah menginap di losmen. Saat dicecar berbagai pertanyaan, Kencur pun berterus terang. Mendengar pengakuan sang anak, orang tua korban tak terima, sehingga melapor ke polisi.

“Dari laporan itu kami langsung lakukan penyelidikan. Pelaku ditangkap di rumahnya,” jelas perwira polisi dengan satu melati di pundak.

Dijelaskan, perkenalan korban dengan pelaku berawal dari obrolan di jejaring sosial sekitar 10 bulan lalu. Komunikasi keduanya makin intens melalui WhatsApp. Hingga mereka berniat jumpa darat. Mereka janjian bertemi di wilayah Ngaglik dan diteruskan ke penginapan.

Di sebuah losmen di lereng Gunung Merapi tersebut pelaku melampiaskan nafsu bejatnya terhadap korban.
Dari pemeriksaan, pelaku ternyata residivis kasus serupa di Magelang pada 2011. Saat itu korban melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan dewasa. “Pelaku ketika itu divonis empat tahun penjara. Dia bebas 2015,” ungkap Kanitreskrim Polsek Pakem AKP Nasarudin.

Kini pelaku harus kembali berurusan dengan hukum. Polisi menjeratnya dengan pasal 332 KUHP dan pasal 81 Undang-Undang Perlindungan Anak subsidair pasal 27 Undang-Undang Informasi Teknologi Elektronik (ITE). Dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan denda paling banyak Rp 15 juta.

Nasarudin mengatakan, kasus yang menimpa Kencur layak menjadi perhatian para orang tua yang memiliki anak perempuan. Agar mereka ikut mengawasi perilaku anak saat berselancar di media sosial. Terutama saat anak berkomunikasi dengan orang lain yang baru dikenalnya di dunia maya.(bhn/yog/ong)