RADARJOGJA.CO.ID – Pengamat Ekonomi UII, Suwarsono Muhammad menilai, keberadaan mall dan toko modern berjejaring/supermarket tidak terlalu berpengaruhi terhadap eksistensi pasar tradisional. Baik pasar tradisional yang dikelola oleh pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah desa. Alasannya, masing-masing tempat perbelanjaan tersebut memunyai pangsa pasar dan keunggulan tersendiri.

“Pangsa pasar mall dan supermarket dengan pasar tradisional itu berbeda. Sebab, barang dan harga yang ditawarkan ke pengunjung berbeda jauh,” kata Suwarsono usai mengisi Stadium General Program di Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (16/9).

Namun demikian, Suwarsono meminta kepada pemerintah daerah dan pemerintah desa tetap mewaspadai terhadap menjamurnya mall dan toko modern. Sebab, karakter generasi bangsa ini di masa mendatang akan berbeda dengan generasi sekarang dan dahulu. Generasi sekarang dan mendatang akan semakin dimanjakan oleh kecanggihan teknologi.

“Perkembangan teknologi tetap diwaspadai. Kita jangan sampai lengah,” terang pria asal Bojonegoro ini.

Karena itu, untuk menjaga eksistensi pasar tradisional ia meminta kepada pemerintah daerah dan pemerintah desa segera melakukan perbaikaan sarana dan prasarana (Sarpras). Perbaikan itu penting supaya pengunjung selalu merasa nyaman dan aman ketika berbelanja di pasar tradisional.

Ia memuji langkah pemerintah daerah yang telah melakukan renovasi terhadap Pasar Beringharjo, Pasar Demangan, Pasar Kranggan, Pasar Piyungan, Pasar Bantul, dan Pasar Kolombo.

“Jangan sampai pengunjung dihantui rasa takut ketika berada di pasar tradisional. Pemerintah harus segera memperbaiki sarana dan prasarana pasar tradisional. Mulai dari desain bangunan, toilet, area parkir, keamanan, kios, los, dan menjaga kualitas barang dagangan. Jangan sampai generasi muda enggan ke pasar tradisional gara-gara pasarnya becek, bocor, dan panas,” pinta Suwarsono. (mar)