Oleh : Kusno S. Utomo

Upaya Raja Penggeser Membangun Legitimasi

Pangeran Poeger memproklamasikan diri sebagai Susuhunan Paku Buwono I. Dia menjadi raja ketujuh Dinasti Mataram. Hitungannya berturut-turut dari Panembahan Senopati, Panembahan Hanyokrowati, Sultan Agung, Susuhunan Amangkurat I, Susuhunan Amangkurat II, dan Susuhunan Amangkurat III.Selama tujuh kepemimpinan itu, pusat pemerintahan Mataram mengalami tiga kali perpindahan.

Kotagede di era Senopati dan Hanyokrowati. Lalu pindah ke Kerta di masa Sultan Agung. Dari Kerta, Amangkurat I menggesernya ke Pleret. Setelah itu Amangkurat II memindahkannya lagi ke Kartasura.Dari Kotagede, Kerta, dan Pleret, rata-rata hanya bertahan sekitar 30 tahun.

Usia lebih panjang terjadi saat di Kartasura. Pusat kerajaan berlangsung dari 1680-1742 atau selama 60 tahun.Secara fisik, Keraton Mataram mengalami penyempurnaan sejak di Pleret. Kondisinya lebih maju dibandingkan Kotagede dan Kerta. Bangunan keraton telah menggunakan batu bata.Keadaan lebih baik saat keraton dipindah di Kartasura. Sebagai pendiri, Amangkurat II mengenalkan model baru. Keraton dilengkapi alun-alun utara di depan dan alun-alun selatan di bagian belakang. Di utara keraton ada pasar dan di baratnya masjid gedhe.

Pola bangunan Keraton Kartasura diadopsi saat Mataram berpindah ke Surakarta. Begitu pula saat pecah menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.Ini bisa dimaklumi karena Paku Buwono II (pendiri kasunanan) dan Hamengku Buwono I (pendiri kasultanan) adalah kakak beradik yang lahir serta besar di era Kartasura.Selain pusat kerajaan, perpindahan juga terjadi pada raja yang berkuasa. Setiap kali suksesi kerap terjadi pergeseran.

Raja tidak selalu orang yang sebenarnya berhak menduduki takhta.Permaisuri dan putra mahkota bisa mengalami pergeseran jika raja menghendaki. Pergeseran dapat terjadi karena tindakan saudara dari putra mahkota atau raja yang baru saja naik takhta.Lihat saja saat Hanyokrowati menggantikan Senopati.

Lalu berlanjut ke Sultan Agung, Amangkurat I, Amangkurat II hingga bergesernya dinasti dari Amangkurat III ke Paku Buwono I.Raja penggeser mengerti tindakannya itu bisa mengundang rasa tidak adil di masyarakat. Rasa tidak adil tersebut harus diantisipasi. Caranya, raja penggeser perlu membangun legitimasi.

Salah satunya lewat wangsit atau bisikan gaib dari langit. Cerita itu oleh pujangga keraton dituangkan ke sastra babad. Ambil contoh saat Amangkurat I menggeser kedudukan Ratu Kulon (permaisuri pertama) dengan Ratu Wetan.Ratu Kulon, putri Kajoran merupakan ibu Pangeran Poeger kelak menjadi Paku Buwono I. Sedangkan Ratu Wetan adalah putri Pangeran Pekik dari Surabaya.

Dia ibu dari Amangkurat II.Babad Pekik menceritakan penyebab pergeseran itu. Dikisahkan, saat hendak menghadap Sultan Agung, Pekik mendengar wangsit bahwa cucunya bakal menjadi raja besar di Wanakerta (Kartasura) sebagai pengganti Pleret.Ramalan legitimasi itu diceritakan ulang Amangkurat II kepada sahabatnya, Bupati Jepara Martalaya. Kakeknya, Sultan Agung, pernah memberi hormat kepada ibunya saat dirinya masih di kandungan. Sultan Agung tahu bayi di kandungan menantunya kelak menjadi raja besar.

Dengan cerita itu, para raja penggeser memerlukan legitimasi demi memperkuat kedudukannya membangun dinasti. Perasaan tak adil dapat diminimalisasi, sehingga tindakan pergeseran dapat diterima masyarakat.Cerita babad juga mengungkap alasan Amangkurat IV, mengawini Mas Ayu Tejawati, wanita desa asal Kepundung, Banyudono, Boyolali.Satu saat putra Paku Buwono I ini kunjungan kerja blusukan menyamar sebagai pengemis. Tejawati hendak menikah dengan pemuda desa setempat.Ketika melihat Tejawati ada cahaya bersinar. Raja menangkap arti sinar tersebut.

Tejawati merupakan perempuan pilihan. Rencana pernikahan itu batal. Tejawati diboyong ke keraton menjadi salah satu selir Amangkurat IV.Dari pernikahan itu lahir Pangeran Mangkubumi. Kelak menjadi Sultan Hamengku Buwono I. Meski bukan anak permaisuri, Mangkubumi diklaim punya darah unggul.Dia dinilai layak dan berhak menjadi raja atas separo Bumi Mataram.

Hasil perjanjian Giyanti 13 Februari 1755, antara Mangkubumi dan Gubernur VOC Jawa Utara Nicolaas Hartingh.Sebelum Mangkubumi mendapatkan pengakuan VOC sebagai raja, Mataram terakhir berkedudukan di Surakarta. Kerajaan dipimpin keponakannya, Paku Buwono III. (yog/bersambung)