Keindahan Tak Melulu Datang dari Objek yang Wah

Bagi Nur Ilham, seni lukis cat air memiliki daya tarik tersendiri. Pendaran warna dalam teknik aquarel menjadi andalan pelukis hiper-realis kelahiran Banyuwangi ini.
Elisabet Olimphia Selsyi, Jogja
Puluhan karya lukis terpajang dalam pameran bertajuk “Watercolorists’ Proclamation” di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta pada 5-10 September lalu. Sebelas di antaranya, yang cukup mengundang perhatian pengunjung, adalah karya Nur Ilham. Antara lain, Daun-Daun Kering, Akhir Perjalanan, Keep Walking, Melawan Matahari, Jagung Bakar, Ancient Teacher, Superman is Sold, Istana Kepompong, Kosong, Akhir Cerita, dan Used by You. Semua lukisan pria kelahiran 10 Oktober 1971 itu bermedia cat air.

Sejak kecil Nur Ilham memang gemar melukis. Bakatnya itu makin terasah saat dia menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Bali. Berbagai media lukis pernah dia coba. Cat minyak, akrilik, arang, pastel, hingga cat air. Hingga akhirnya dia jatuh hati pada cat air. Meski di awal karirnya sebagai pelukis dia lebih banyak menggunakan media cat minyak. Setidaknya sejak dia lulus SMSR Jurusan Lukis Modern pada 1992 dan melukis untuk Bali Bird Park pada 1995.
Sepuluh tahun di Bali Bird Park menjadikannya pelukis spesialis burung. Hingga pada Juni 2016 Ilham mendapat undangan untuk melukis di Vogelburg, sebuah taman burung di Jerman.

“Awalnya saya menilai seorang pelukis harus (melukis) di atas kanvas. Kain dibentang, terus dioles cat minyak,” ungkap pelukis yang tinggal di Jalan Mertasari Jimbaran, Bali, ini.
Padahal, melukis adalah suatu gagasan, konsep atau ide apa pun dan dengan media apa saja.

Melukis dengan cat air termasuk seni yang cukup sulit bagi kalangan pelukis. Hal itulah yang membuatnya merasa tertantang. Teknik sapuan basah (water color/aquarel) yang dianggap paling sulit justru menjadi andalannya.

Sampah benda-benda yang sekilas tidak bernilai menjadi pilihan tema untuk lukisannya. Seperti dedaunan kering, sepatu usang, dan kain bekas menjadi ciri khas karyanya. Tak ada benda mati di mata Ilham. Dia melihat benda-benda itu hidup layaknya manusia dan bisa berbicara meski tanpa suara.

Baginya, karya seni harus bisa dipertanggungjawabkan. Baik untuk diri pribadi maupun orang lain. Setiap karya harus dibuat sesuai kemampuan dan dengan kejujuran. “Keindahan tidak melulu datang dari objek-objek yang wah,” ucapnya.

Ilham tidak peduli dengan aliran seni. Meski lukisannya kerap diidentikkan dengan aliran hiper-realis. “Biarlah orang lain yang menilai. Kalau perlu aliran saya sendiri,” ucapnya sembari tertawa. (yog)