Harus Cerminkan Toleransi, Ajak Tangkal Berita Hoax

JOGJA – Sejumlah tokoh dihadirkan dalam Pencerahan dan Orientasi Mahasiswa Kampus Kebangsaan (PERMAKK) bagi mahasiswa baru Universitas Janabadra (UJB) Jogjakarta. Pada hari kedua menampilkan narasumber Kapolda DIJ Brigjen Pol Drs Ahmad Dofiri, M.Si.

Kapolda terlihat antusias mengisi acara PERMAKK, karena bisa bertemu dengan para mahasiswa. Bisa bertemu dengan para kader bangsa merupakan kegiatan yang disukai orang nomor satu di jajaran kepolisian di DIJ ini.

Acara diawali dengan persembahan lagu-lagu daerah dari choir Janapatria yang anggotanya mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tampil dengan busana daerah masing-masing, hingga memukau Kapolda.

Kapolda menilai, tepat Kampus Kebangsaan Janabadra dengan ungkapan Ki Hajar Dewantara yaitu “pengajaran harus bersifat kebangsaan”. Jika pengajaran kepada anak tidak berdasarkan kenasionalan, anak-anak tidak akan memiliki rasa bangga.

Akibatnya, semakin lama terpisah dari bangsanya, dan menjadi lawan kita. “Kampus kebangsaan cocok dengan harapan UJB bisa melahirkan tokoh pemimpin yang berjiwa kebangsaan,” ungkap jenderal bintang satu ini dengan semangat.

Kepada anak muda inilah, lanjut Kapolda, kita menaruh harapan yang begitu besar. Namun untuk mencapai itu, tantangan anak muda Indonesia sekarang bukan perang melawan penjajah, tetapi tiga hal yaitu terkait berita hoax di internet, bahaya narkoba, dan paham radikalisme/terorisme di kalangan pemuda/mahasiswa.

“Terkait penggunaan internet, mahasiswa diharapkan bijaksana dan selektif dalam memakai media sosial. Caranya dengan mengenali sumber beritanya dan jangan ikut menjadi penyebar hoax,” tambah perwira tinggi yang hobi lari ini.

Mengenai bahaya narkoba, Kapolda menjelaskan, sekarang banyak generasi muda yang terjerumus ke dalam narkoba. Saat ini para orang tua, mulai guru, dosen, pejabat, penegak hukum dan semua kalangan, resah terhadap narkoba ini. Ini menyusul banyak pemuda atau mahasiswa yang terlibat di dalamnya, dan pada gilirannya merusak masa depan bangsa.

Mahasiswa juga diingatkan bahwa tujuan ke Jogjakarta untuk kuliah atau menempuh pendidikan. Selain predikat yang sudah dikenal selama ini, kota pendidikan, kota budaya, kota pariwisata, kota gudeg, Jogjakarta juga mendapat julukan the city of tolerance.

Sebagai warga Jogjakarta, harus mencerminkan sifat toleransi. Kebinekaan merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku bangsa, agama, bahasa, dan adat istiadat. Kebinekaan ini boleh dikatakan sebuah potensi sekaligus juga tantangan.

Sebagai tantangan, bahkan ancaman karena bisa membuat kita mudah berbeda pendapat dan lepas kendali, tumbuhnya perasaan kedaerahan yang sempit dan dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, terutama dalam sekelompok yang paling strategis yaitu pemuda dan pelajar.

“Di mana pada usianya yang labil, pemuda dan pelajar sangat mudah dipengaruhi, apalagi yang sedang mempunyai semangat tinggi, mencari jati diri dan eksistensi. Sehingga pemuda dan pelajar wajib mempelajari dan mewaspadai bahaya paham radikalisme,” tandas Kapolda. (*/nta/laz/ong)