KULONPROGO – Sepekan setelah surat perintah pengosongan lahan dilayangkan, PT Angkasa Pura I (AP I) kembali mengeluarkan Surat Peringatan (SP) 1. Kebijakan itu menjadi indikasi bahwa perusahaan pelat merah ini tidak main-main menyuruh warga segera mengosongkan lahan bandara.

Surat peringatan bertanggal 12 September 2017 itu dilayangkan kepada warga penerima ganti rugi pembebasan lahan yang mengikuti program relokasi. Warga yang masih menempati tanah, rumah, atau bangunan yang akan dibangun bandara diminta segera mengosongkannya paling lambat 22 September.

“Kami sudah masuk tahap land clearing dan akan disusul tahapan pembangunan fisik bandara,” kata Project Manager Pembangunan NYIA Sujiastono mengutip surat peringatan yang sudah dilayangkan.

Sekretaris Proyek Pembangunan NYIA Didik Catur mengatakan surat peringatan itu akan dilayangkan sebanyak tiga kali. Surat peringatan terakhir akan dikirimkan sebelum batas waktu pengosongan lahan 22 September 2017, sesuai dengan surat perintah sebelumnya.

“Surat peringatan yang kedua dan ketiga belum kami layangkan. SP 3 kira-kira tanggal 19 atau 20 September. Warga tinggal memiliki waktu kurang dari 10 hari lagi,” kata Didik.

Disinggung mengenai apa langkah AP I jika lahan juga belum dikosongkan? Didik enggan berkomentar, dia mengatakan tetap akan ada upaya pengosongan oleh AP I selepas tanggal tersebut. “Ini kan di Jogja, langkahnya yang halus-halus saja. Setidaknya, sudah kami ingatkan,” ujarnya.

Diingatkan, Presiden Joko Widodo saat groundbreaking awal tahun lalu mengatakan bahwa target pengoperasian bandara NYIA April 2019. AP I berupaya mengejar target tersebut. “AP I tidak bisa berjalan sendiri tanpa bantuan pemerintah daerah beserta perangkatnya, kami mohon bantuan semua pihak,” kata Didik.

Sementara itu, Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo berharap penggusuran bisa dilakukan secara manusiawi dan tidak harus semua sekaligus. Sebab banyak lahan yang sudah tidak berpenghuni bisa dikerjakan terlebih dahulu.

“Kami masih berupaya membantu dan mendorong warga untuk percepatan pembangunan hunian di relokasi. Akhir September saya optimistis bisa tuntas seluruhnya. Kalau masih ada warga memang belum jadi rumahnya, ya diberi waktu lah,” harapnya. (tom/iwa/ong)