Oleh : Kusno S. Utomo

Wangsit Raja, Picu Gejolak Kakak vs Adik

Pergantian takhta Dinasti Mataram saat berpusat di Kotagede, Kerta, dan Pleret penuh gejolak. Bahkan berjalan secara tak wajar dengan klaim wangsit yang diterima raja. Kemudian diikuti dekrit kerajaan berisi ancaman terhadap pihak-pihak yang tidak setuju.

Kejadiannya sering muncul setelah raja wafat. Contohnya sejak Panembahan Senopati. Pengganti yang naik takhta ternyata bukan putra raja yang telah ditetapkan sebagai putra mahkota.

Pangeran Pringgalaya, putra dari permaisuri Retna Dumilah asal Madiun menjadi korban pertama. Dia digeser oleh saudaranya, Pangeran Jolang. Dasarnya wangsit yang diterima Senopati menjelang mangkat.

Sabda yang dikeluarkan Senopati sesuai wangsit yang diterimanya mengarah pada Jolang. Mataram menjadi kerajaan besar jika takhta dipercayakan kepada Jolang.

Kisah ini terulang saat Sultan Agung jumeneng dengan menggeser adiknya, Pangeran Martapura, yang berstatus putra mahkota. Jolang yang telah bertakhta sebagai Panembahan Hanyokrowati mengaku mendapatkan wangsit berupa dhawuh (perintah) dari para leluhurnya.

Raden Mas (RM) Rangsang, nama kecil Sultan Agung dinilai lebih tepat menjadi pengganti raja ketimbang Martapura. Untuk memperkuat wangsit itu, Martapura diopinikan sakit ingatan, sehingga berhalangan tetap menjadi raja.

Pergeseran kembali terjadi saat Sultan Agung memilih putra mahkota RM Sayidin ketimbang RM Syahwawrat. Padahal, kedudukan Syahwawrat lebih kuat. Ibundanya berstatus Ratu Kulon alias permaisuri pertama raja.

Demikian pula ketika Sayidin menjadi raja bergelar Susuhunan Hamangkurat Agung atau Amangkurat I. Bedanya, Amangkurat I justru melakukan bongkar pasang putra mahkota sejak bertakhta di Pleret.

Awalnya raja menetapkan RM Dradjad atau Pangeran Poeger, putra dari permaisuri Ratu Kulon asal Kajoran, Tembayat, Klaten. Status Ratu Kulon sebagai permaisuri pertama digeser Ratu Wetan. Posisi Poeger ikut digantikan kakaknya, RM Rahmat atau Pangeran Tejaningrat.

Status putra mahkota bagi Tejaningrat pernah dibekukan. Gara-garanya dia dituduh terlibat dalam percobaan kudeta melawan ayahnya. Dia kemudian ditahan dan diasingkan. Namun, Amangkurat I kemudian memberikan grasi. Kedudukan Tejaningrat sebagai putra mahkota pun dipulihkan.

Konflik muncul menjelang Amangkurat I mangkat. Dalam pelarian pasca keratonnya diduduki musuh, dia ingin putra mahkota merebut kembali Mataram dari tangan Trunajaya. Perintah itu tidak dijalankan putra mahkota. Raja kemudian berpaling kepada Poeger. Bersama para pengikutnya, Poeger melakukan konsolidasi kekuatan di Jenar, Purworejo.

Poeger berhasil memukul mundur sisa-sisa pasukan Trunajaya di Pleret. Poeger mendeklarasikan diri sebagai raja. Gelarnya bukan Hanyokrowati, Hanyokrokusumo, atau Amangkurat. Tapi Susuhunan Abdurrahman Ingalaga.

Deklarasi Poeger sebagai raja mengundang reaksi kakaknya, Tejaningrat. Sebagai putra mahkota dia merasa punya hak menggantikan ayahnya. Setelah prosesi pemakaman Amangkurat I, Tejaningrat menyusun kekuatan. Dia bertemu dengan Bupati Jepara Martalaya dan VOC.

Koalisi politik baru dibangun. Tejaningrat memproklamasikan diri sebagai raja. Gelarnya Susuhunan Amangkurat II. Tapi dia belum punya keraton. Amangkurat II adalah raja pertama Mataram yang dinobatkan di luar istana.

Operasi militer Mataram dan VOC berhasil menggulung pasukan Trunajaya. Sukses memadamkan pemberontakan Trunajaya, Amangkurat II membangun istana baru di Hutan Wanakerta. Keraton itu dinamakan Kartasura Hadiningrat sebagai kelanjutan dari Keraton Pleret.

Amangkurat II mengeluarkan sabda agar Poeger menyerah. Tidak ada dua raja di Mataram. Poeger menolak. Sengketa takhta antara kakak melawan adik terjadi. Ontran-ontran suksesi pun terjadi.

Realitas politik Poeger kalah kuat dibandingkan kakaknya. Dia menyerah dan bergabung dengan Amangkurat II di Kartasura. Poeger kembali menjadi pangeran biasa. Istana Mataram resmi pindah dari Pleret ke Kartasura. (bersambung/yog/ong)