JOGJA- Kritik atas penamaan ring road DIJ tak hanya dilontarkan dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Achmad Charis Zubair. Budayawan Djoko Dwiyanto berpendapat, penentuan nama ring road yang dibagi enam ruas jalan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DIJ Nomor 116/KEP/2017 terkesan tidak konsisten karena tidak semuanya mengambil nama-nama kerajaan Nusantara. Tapi ada yang memakai nama raja dan pahlawan nasional. “Ini tidak ada korelasinya dengan DIJ, maka perlu dirunut lagi kajiannya berdasarkan apa,” sindirnya kemarin (7/9).

Menurut pria yang juga menjabat ketua Dewan Kebudayaan DIJ ini, jika penamaan ring road berlatar belakang untuk membangkitkan semangat persatuan, nama-nama yang ditentukan dalam keputusan gubernur itu belum sepenuhnya representatif. Karena itu pemerintah perlu melakukan sosialisasi scara masif agar tidak menimbulkan salah arti bagi masyarakat. “Harus rasional dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga masyarakat tahu asal-usulnya (nama jalan di ring road) dari mana,” lanjut Djoko.

Sekprov DIJ Gatot Saptadi mengatakan, penamaan enam ruas jalan ring road sebenarnya bukan hal istimewa. Penamaan tersebut agar lebih mudah menunjukkan alamat di seputar ring road. “Arti dari jalan kan menunjukkan tempat,” ujarnya di Kompleks Kepatihan kemarin.

Dikatakan, penamaan jalan arteri ring road sejauh 36,92 kilometer itu melalui proses panjang. Sekitar empat tahun. Dengan melibatkan pakar bidang sejarah, budayawan, dan akademisi. Selain mempermudah dari aspek kependudukan, Gatot mengklaim penamaan ring road

mempertegas DIJ yang tidak memilah nama-nama berdasarkan sejarahnya. Sebaliknya, memunculkan gagasan nama-nama yang dulu pernah menyatukan Nusantara. “Kajiannya bukan hanya berdasar sejarah dan budaya DIJ. Namun tanah air, karena DIJ bagian dari Indonesia,” ucapnya.

Dari gagasan itu, lanjut Gatot, mengerucut tiga nama kerajaan dan seorang raja. Yakni, Padjajaran, Siliwangi, Majapahit, dan Brawijaya.

Sementara nama pahlawan nasional Jenderal Ahmad Yani muncul karena sudah tidak dipakai. Sebelumnya Jenderal Ahmad Yani menjadi nama jalan terusan Malioboro ke arah selatan. Namun, ruas jalan tersebut diganti nama Margomulyo. Nah, untuk menghormati jasa pahlawan revolusi itu, nama Jenderal Ahmad Yani kembali digunakan untuk satu ruas ring road. Tepatnya dari Simpang Empat Jalan Wonosari hingga Simpang Empat Jalan Imogiri Barat sejauh 6,5 kilometer.

Sedangkan nama Prof Dr Wirjono Projodikoro berdasarkan permintaan Pengadilan Tinggi DIJ untuk menandai jalan di depan kantor pengadilan tersebut yang terletak di antara Simpang Empat Dongkelan hingga Simpang Empat Jalan Imogiri Barat. Penamaan tersebut untuk menghormati jasa Wirjono Projodikoro yang pernah menjabat ketua Mahkamah Agung RI.

“Secepatnya semua nama jalan diluncurkan di perempatan Jombor. Kalau tak ada halangan pada awal Oktober mendatang,” kata mantan penjabat bupati Sleman itu.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Perhubungan DIJ Dewo Isnu Broto Imam Santoso mengatakan, ada dua alternatif desain plang sebagai penanda nama jalan. Salah satunya didesain menggunakan besi tempa, lengkap dengan ukiran khas Jogja. itu sebagai wujud keistimewaan DIJ. Desain lainnya hanya berupa pelat polos.

Sebelumnya, Achmad Charis Zubair mengkritik nama-nama enam ruas ring road karena tidak mencerminkan khas Jogjakarta. Tanpa mengecilkan nama dan jasa Jenderal Ahmad Yani, menurut Charis, ring road akan terasa istimewa jika kuat unsur Jogjanya. (dya/yog/ong)