SLEMAN – Penindakan hukum terhadap pengedar dan pemakai narkoba di wilayah DIJ sepertinya belum mampu menjadi efek jera. Peredaran barang haram tersebut justru kian masif. Ironisnya, para pengedar terus menyasar para pelajar sebagai konsumennya. Terlebih sejak maraknya peredaran tembakau gorila.

Setidaknya kasus itulah yang berhasil diungkap Satreskoba Polres Sleman. Empat orang pengguna dan pengedar bahan narkotika jenis I itutelah dibekuk.

Salah seorang tersangka Arnoldus Jansen mengaku telah lebih dari setahun mengedarkan zat haram tersebut kepada para pelajar. Yang membuat miris, dari rentang waktu tersebut tak urang 40 anak menjadi pelanggannya. Sasarannya siswa sekolah yang ada di Sleman. “Penjualannya melalui sistem perkenalan atau lewat Instagram,” ucap pria yang akrab disapa Arnold saat rilis barang bukti di Mapolres Sleman kemarin (6/8).

Untuk bisa masuk ke lingkungan pelajar, Arnold awalnya hanya menawarkan rokok.Saat itulah tembakau gorila turut dia tawarkan kepada sasaran. Untuk mengelabui aparat, tembakau gorila diubah dalam bentuk cair (liquid). Para pelajar penikmat rokok elektrik vapor menjadi pelanggan utamanya. Setiap tabung berisi 2-3 mililiter cairan tembakau gorila yang dijual dengan harga Rp 200 ribu – Rp 300 ribu. Dari setiap tabung yang terjual Arnold mendapat keuntungan Rp 50 ribu.

Selain Arnold, polisi juga menangkap Aditya Firdaus, pengedar lainnya. Dari tangan Adit, sapaannya, aparat mengamankan barang bukti 15 tabung liquid tembakau gorila yang siap diedarkan beserta tembakau gorila utuh. Tak hanya itu, dari kediaman Adit aparat mendapati alat token yang digunakan untuk transfer uang beserta buku tabungan dari berbagai bank.

Adit mengaku mendapatkan tembakau gorila dari banar di Bandung dan Tanggerang, Jawa Barat. Dia cukup memesan lewat media daring Instagram, kemudian paket dikirim lewat jasa pengiriman barang. “Selama ini saya tidak mengenal siapa pengelola akun Instagram itu. Namun, setiap pesan barang pasti dikirim,” kilahnya.

Setiap 50 miligram tembakau gorila liquid dihargai Rp 2,5 juta. Dari jumlah tersebut, Adit kemudian membaginya menjadi 15 tabung. Yang selanjutnya ditawarkan kepada calon pelanggan melalui tujuh akun Instagram miliknya.

“Sasarannya umum. Pengiriman biasanya COD (cash on delivery/bertemu langsung dengan pemesan, Red), ” ujar pria bertubuh ceking itu.

Hampir sama dengan Arnold, setiap dua minggu penjualan Adit bisa meraup keuntungan hingga Rp 7 juta. “Pelanggan saya cukup banyak. Mayoritas memang pemakai vapor,” lanjutnya.

Wakapolres Sleman Kompol Heru Muslimin menjelaskan, penangkapan kedua tersangka tersebut merupakan hasil pengembangan perkara sebelumnya. Berawal dari penangkapan pelajar oleh Satreskrim Polsek Mlati di wilayah Cebongan. Saat dibekuk, dua orang pelajar AB dan LB yang masih di bawah umur kedapatan mengonsumsi tembakau gorila.

“Dari dalam kamar kami temukan sembilan puntung rokok dan bekas plastik yang diduga mengandung narkotika golongan I,” jelas parwira dengan satu melati di pundak itu.

Dari empat orang yang diperiksa, hanya Arnold dan Adit yang ditahan di sel Mapolres setempat. Sementara pelajar AB dan LB tidak di tahan, namun proses hukum terhadap keduanya tetap berjalan.

Keempat tersangka dijerat pasal 114 atau pasal 127 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun dan denda masksimal Rp 10 miliar. (bhn/yog/ong)