Kiat Pemuda “Tansah Bejo” Jaga Kebersihan Lingkungan

BANTUL- Kesadaran pemuda kelompok pemuda “Tansah Bejo” RT 04, Dusun Singosaren, Wukirsari, Imogiri, Bantul, patut diacungi jempol. Niat mereka menjaga kebersihan saluran irigasi justru berdampak terciptanya wahana wisata dadakan. Saluran irigasi sepanjang 100 meter yang melintas di wilayah mereka disulap menjadi seperti sungai-sungai di Jepang.

Ribuan ikan dilepaskan di saluran irigasi. Hal itulah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.Mereka konsisten menjaga saluran irigasi bebas dari sampah. Agar ikan bisa tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Suasana khas pedesaan dengan masyarakatnya yang guyub dan ramah kepada pendatang makin menambah nilai plus Singosaren.

“Jenisnya bermacam-macam. Tapi yang paling banyak nila,” jelas anggota “Tansah Bejo” Arif Irwansyah di sela kesibukannya merapikan beberapa potongan bambu di saluran irigasi kemarin (5/9).

Lingkungannya juga asri. Banyak pepohonan di kanan-kiri jalan kampung. Meski jalannya sudah berupa cor blok. Setiap pekarangan rumah warga juga tak kalah hijau. Banyak jenis tanaman yang menghias.

Pemandangan asri ini kian komplit ketika melihat saluran irigasi yang membelah wilayah RT 04 ini. Ya, saluran yang berhulu di Sungai Opak ini tak hanya sekadar bersih yang memanjakan mata lantaran kejernihan airnya.

Saat itu Irwan, sapaannya, sedang menata potongan bambu untuk dipasang di salah satu sudut tepi saluran irigasi. Itu untuk memudahkan warga yang ingin bermain atau memberi pakan ikan.

Ya, belakangan ini wilayah RT 04 kerap didatangi wisatawan dari berbagai daerah. Mereka penasaran sekaligus tertarik ingin melihat dari dekat saluran irigasi yang mirip dengan selokan di Jepang ini.

“Dari Jakarta ada. Pupuk Kaltim juga pernah,” tutur pemuda kelahiran 26 tahun lalu ini.

Padahal, pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan di Dinas Perdagangan Bantul ini mengungkapkan, ide memanfaatkan saluran irigasi untuk budidaya ikan muncul karena keprihatinan kelompok pemuda. Hampir setiap hari tumpukan sampah limbah rumah tangga yang terbawa air irigasi mengganggu pemandangan. Dalam sehari sampah seperti pampers dan plastik ini bisa mencapai dua karung.

“Tapi sebenarnya itu ide pak Mutohar,” lanjutnya sembari menunjuk seorang pria paro baya yang berdiri tak jauh darinya.
Kendati begitu, Mutohar yang mendengar namanya disebut merendah. “Mboten. Sareng-sareng kaleh konco-konco pemuda,” ucapnya.

Seperti halnya Irwan, Mutohar mengakui, munculnya ide ini semula bertujuan untuk menggugah kesadaran warga. Sekaligus mengantisipasi warga membuang sampah sembarangan.

Ide ini pertama kali dilontarkannya saat rapat rutin kelompok pemuda lima bulan lalu. Sejurus kemudian, kelompok pemuda pun kerja bakti membersihkan saluran irigasi. “Prosesnya bertahap. Setelah dibersihkan saya buat kincir,” beber pria yang didapuk sebagai pembina “Tansah Bejo”.

Kincir berkontruksi besi dan kawat ini dipasang di atas saluran irigasi. Itu berfungsi untuk menyaring sampah. Agar air yang mengalir ke bawah bersih. Itu juga sekaligus sebagai pembatas agar ikan tak lari ke mana-mana.
Guna berfungsi sebagai kolam, sekitar 100 meter di bawah kincir dipasang jaring kawat. Agar ikan tak terbawa aliran air.

Nah, kelompok pemuda akhir Mei lalu kemudian menebar lima ribu benih ikan. Bersamaan dengan peresmian kolam dadakan ini. Uangnya berasal dari kas kelompok pemuda. “Rp 500 ribu. Kemudian Pemkab Bantul memberikan bantuan tiga ribu benih,” sebutnya.

Mutohar melihat keberadaan kolam dadakan ini cukup efektif menggugah kesadaran warga. Sebagai buktinya, volume sampah yang terjaring kincir angin menurun. Sampah yang terkumpul hanya sekarung dalam seminggu. Itu artinya warga Dusun Sindet, Trimulyo, Jetis, dan warga Dusun Sindet, Wukirsari, Imogiri yang notabene berada di hulu sudah jarang membuang sampah di saluran irigasi.

“Kami nggak ingin mengingatkan. Khawatir tersinggung. Biar dengan kesadaran diri saja,” tuturnya.

Kendati demikian, upaya kelompok pemuda menjaga ekosistem irigasi bukan tanpa kendala. Meskipun kendala itu tak begitu berpengaruh pada kegiatan budidaya ikan. Yakni, penyusutan volume air. Biasanya, lima hari sekali air yang berasal dari Sungai Opak ini disalurkan ke irigasi lain untuk memenuhi kebutuhan air. “Normalnya kedalaman sekitar 40 cm sampai 50 cm,” ungkapnya.

Terlepas dari itu, Mutohar tak mengira idenya ini bakal mengundang banyak pengunjung. Juga, memanjakan anak kecil sekitar Dusun Singosaren. Nah, guna memfasilitasi pengunjung ini kelompok pemuda akhirnya menyediakan pakan. Dua ons pakan dipatok Rp 1.000.

“Ambil sendiri. Bayar sendiri. Kalau uangnya lebih ya tinggal mengambil kembalian sendiri,” jelas Mutohar menyebut kelompok pemuda tidak memungut biaya retribusi.

Menurut Mutohar, keberadaan kolam dadakan ini kian membuat warga RT 04 semakin guyub dan kompak. Tanpa ada yang mengomando setiap pagi warga membersihkan tumpukan sampah yang terjaring kincir. Setiap malam mereka juga berkumpul di pos ronda yang berdiri di atas saluran irigasi.

“RT 03 dan RT 05 yang berada di atas dan di bawah kolam RT 04 juga ingin meniru. Kalau sudah jadi mungkin panjangnya nanti bisa 500 meteran,” tambahnya.(zam/yog/ong)