KULONPROGO – Progres pembangunan relokasi warga terdampak NYIA berjalan sangat lamban. Pemkab Kulonprogo mencatat, hunian rumah selesai dibangun dan sudah siap ditempati baru 40 persen.

“Data Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo baru sekitar 80-90 rumah dari 173 rumah di lima lokasi relokasi selesai dibangun,” kata Asisten Sekda (Assek) II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Triyono kemarin (5/9).

Salah satu pemicu lambatnya proses pembangunan hunian di relokasi yakni ketersediaan tukang dan tenaga bangunan. Pekerjaan dilakukan serempak di semua tempat.

“Kalau yang sudah beratap genteng sudah banyak. Namun sebagian besar lantai rumah belum dikeramik, harapannya bulan ini semua selesai,” jelasnya.

Sementara itu, warga harus segera pindah dari lahan bandara. Pekerjaan fisik badara mulai dikebut PT Angkasa Pura (AP) I. Jika terpaksa, mereka disarankan menumpang di rumah keluarganya yang sudah lebih dulu jadi.

PT AP I sudah meminta warga segera pindah secepatnya. Salah satunya menggelar rapat koordinasi pembangunan bandara di Kepatihan, Senin (4/9).

Dalam pertemuan itu dibahas kontrak kerja pendamping pembangunan relokasi yang akan berakhir 10 September mendatang. Harapan awal, begitu kontrak pendamping habis semua rumah relokasi juga selesai, tapi ternyata masih ada yang ketinggalan.

“Mudah-mudahan tidak terlalu mengganggu. Saya belum tahu apakah pendamping itu bisa perpanjang kontrak. Harapan kami, paling tidak bisa sampai akhir September,” katanya.

Dukuh Bapangan, Desa Glagah, Suparjo mengungkapkan, dari 40 warga yang memilih relokasi baru 60 persen yang sudah selesai dibangun. Sebagian baru melakukan finising seperti pemasangan keramik, pengecatan dan membuat dapur.

“Selain itu, 15 rumah warga juga belum tersambung aliran listrik. Belum tahu kapan pindah, yang jelas warga kepinginnya bareng-bareng (boyongan) sehingga nunggu semua jadi dulu,” ungkapnya.

Koordinator Kelompok Pemukim VI Lahan Relokasi Palihan, Susilo mengungkapkan hal senada. Progres pembangunan rumah baru sekitar 70 persen. Sebagian belum finising dan belum siap ditempati.

“Bidang jalan dan drainase di lokasi perumahan belum dibuat, kami khawatir kondisinya akan parah jika musim hujan datang. Kalau tenaganya cukup,” katanya.

Project Manager Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) PT Angkasa Pura I, Sujiastono menegaskan, relokasi menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Terkait hal itu, pihaknya mengaku akan segera berkoordinasi. “Kami selalu koordinasi, yang jelas pekerjaan jalan terus,” tegasnya. (tom/iwa/ong)