Alasan Agama Masih Jadi Persoalan

SLEMAN – Program nasional imunisasi Measles Rubell (MR) menyisakan “PR” bagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman. Sudah diprediksi sebelumnya, penolakan orang tua anak untuk imunisasi MR tetap terjadi. Dari pantauan Dinkes tak kurang 1.100 anak belum diimunisasi karena alasan agama. Sementara 1.200 lainnya mengalami penundaan imunisasi karena berbagai alasan.

Ada yang sakit saat jadwal imunisasi di sekolah bersangkutan. Ada pula yang absen dan menolak karena beranggapan vaksin tersebut mengandung bahan berbahaya. Termasuk kontraindikasi vaksin berdasarkan penjelasan dokter. Adapun target capaian gelombang pertama imunisasi MR mencapai 97,1 persen. Dari target 182.487 siswa, sebanyak 177.275 anak sudah menjalani imunisasi.

Jumlah tersebut merujuk peserta imunisasi MR tahap pertama yang menyasar sekolah dan lembaga pendidikan. Kendati demikian, petugas Dinkes tetap berupaya melakukan pendekatan kepada orang tua/wali siswa demi suksesnya program nasional MR. Salah satunya dengan mengoptimalkan peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan dokter spesialis anak bidang vaksin.

“Kami berusaha menggandeng banyak pihak untuk sosialisasi. Orang tua yang menolak anaknya diimunisasi diundang di sekolah untuk kami jelaskan detailnya,” ungkap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman Novita Krisnaeni kemarin (4/9).

Novita memastikan seluruh siswa yang belum diimunisasi tetap bisa mendapatkan vaksin pada gelombang kedua. Hanya, pemberian vaksin tetap butuh izin dari orang tua/wali siswa. Sistemnya, Dinkes akan melakukan jemput bola jika dalam satu sekolah banyak yang belum imunisasi MR. mereka dikumpulkan di satu lokasi untuk mendapatkan sosialisasi. Pun demikian pelaksanaan imunisasi susulan. Dilakukan bersamaan.

Sementara saat ini Dinkes sedang fokus melaksanakan imunisasi MR gelombang kedua. Vaksin didistribusikan melalui 1.528 posyandu yang tersebar di seluruh Sleman. Targetnya 60.343 anak.

Terpisah, Plt Kepala Kantor Kementerian Agama Sleman Abdul Haris Naufika mengatakan, penolakan vaksin MR bukan datang dari sekolah, melainkan orang tua siswa. Di sisi lain ada siswa yang jauh dari orang tuanya. Sebab, siswa tersebut berasal dari luar Sleman yang sedang menjalani pendidikan di pondok pesantren. Izin kepada orang tua mereka pun harus dilakukan melalui surat-menyurat. “Ada yang belum menjawab surat dari kami. Karena itu imunisasi MR belum bisa dilaksanakan,” ucapnya.(dwi/yog/ong)