MUNGKID – Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang menggelar Seminar Nasional Peningkatan Produktivitas Ternak melalui Inovasi Agribisnis Berbasis Peternakan 2017. Ratusan peserta dari berbagai belahan pulau nusantara menghadiri acara tersebut. Pada saat bersamaan, STPP juga menggelar Kegiatan Komunikasi Dosen, Widyaiswara, Peneliti, PPL, kelompok tani ternak dan pengusaha.

Ketua STPP Magelang Ir Ali Rachman Msi menyatakan, kegiatan bertujuan untuk memperoleh informasi dari berbagai persoalan. Khususnya, aspek teknis, sosial ekonomi, kebijakan peternakan untuk memperkuat ekonomi perdesaan berbasis agribisnis peternakan.

“Acara ini untuk meningkatkan pemahaman stake holders tentang pentingnya peningkatan sikap dan perilaku sumber daya manusia peternak. Berbagai teknologi dan manajemen tepat guna, sistem rantai pemasaran, pengolaha limbah serta rekomendasi kebijakan pemerintah yang lebih berpihak kepada peternak rakyat. Dalam rangka peningkatan ekonomi pedesaan,” jelasnya kemarin.

Selain itu, tujuan acara itu juga menjadikan organisasi profesi sebagai partner penting bagi pemerintah pusat dan daerah. Diantaranya seperti dosen, widyaiswara, peneliti melalui penyampaian rumusan hasil seminar nasional.

Pada kegiatan itu, makalah yang dipresentasikan oral maupun poster berasal dari berbagai instansi terkait yang tersebar di seluruh Indonesia. Sesuai dengan tema, hasil penelitian yang dihimpun dalam prosiding ini diharapkan dapat menambah informasi terkait bidang peternakan dan memberikan kontribusi dalam mempercepat inovasi alih teknologi unggulan.

“Itu untuk pengembangan agribisnis peternakan,” jelasnya.

Kegiatan ini juga dapat dijadikan sarana pertukaran informasi dalam membangun kerjasama. Seperti antar institusi pemerintah, swasta maupun praktisi peternakan.

“Melalui rumusan masukan, gagasan forum bagi para pengambil kebijakan dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat peternak,” kata dia.

Dua kegiatan ini, menghadirkan dua pemateri. Yaitu, Agung Budiyanto drh mpd PhD, Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FKH UGM dan Direktur Perbibitan Dirjend PKH Kementan Dr Ir Maman Suherman MM.

Dalam materinya, Maman menyampaikan soal arah kebijakan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan nasional. Bidang pertanian masuk dalam program pemerintah agenda 7 nawacita, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Turunan dari program 7 nawacita diantaranya ketahanan pangan.

“Terutama kemampuan mencukupi pangan dan produksi dalam negeri,” jelas Maman.

Ia menjelaskan, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan. Tercermin dari tersedianya pangan yang cukup. Dari jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau.

“Ketahanan pangan, tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan,” katanya.

Adapun pengertian ketahanan nasional yaitu, berisi keuletan dan ketangguhan yang mampu mengembangkan ketahanan. Kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, hambatan, dan ancaman yang datang dari dalam maupun luar negeri.

“Bangsa harus memiliki keuletan dan ketangguhan yang perlu dibina secara konsisten dan berkelanjutan,” katanya.

Pemerintah juga tengah menggalakkan program upaya khusus sapi indukan wajib bunting (Upsus siwab). Percepatan peningkatan populasi ini diatur dalam Permentan Nomor 48 Tahun 2016 tentang Upsus peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting. Adapun sasaran siwab yaitu, sapi dan kerbau siap bunting sampai 4 juta ekor. Pada 2017 ini, terjadi kebuntingan dari IB dan kawin alam sebanyak 75 persen (3 juta ekor),

“Selain itu sasaran siwab juga menurunnya penyakit gangguan reproduksi 60 persen. Serta, menurunnya pemotongan sapi betina produktif 20 persen,” jelasnya.

Sementara Agung Budiyanto menyampaikan soal masalah agro industri dibidang reproduksi terdapat beberapa masalah. Diantaranya, masih belum efisien akibat sistem manajemen yang belum baik, tingkat performa reproduksi di Indonesia masih rendah. Sehingga agro industri masih belum efisien.

“Masih tingginya gangguan reproduksi infeksius dan non infeksius. Selain itu juga sistem ekonomi pasar yang belum stabil tekanan politik dari luar negeri,” katanya.

Dengan persoalan yang ada, maka solusinya manajemen kesehatan dan manajemen reproduksi menjadi faktor penting keberhasilan agro industri berbasis breeding. Soft dan hard skill pada manajemen pemeliharaan masih perlu ditingkatkan dalam mendukung program agoindustri.

“Reproduksi dapat sebagai basis agroindustri masih bisa memberikan keuntungan dari sisi material dan spiritual dengan mengurangi inefisiensi produksi,” jelas Agung. (ady/ong)