MUNGKID – Bersamaan Borobudur International Festival (BIF) 2017, juga digelar Festival Lima Gunung (FLG) yang tidak kalah menarik. Acara ini berlangsung di lereng Gunung Merbabu, Dusun Gejayan, Banyusidi, Pakis, Kabupaten Magelang, 28-30 Juli.

Festival diawali hari Jumat (28/7) lalu dengan peresmian sebuah masjid di Desa Banyusidi oleh pimpinan Ponpes API Tegalrejo KH Yusuf Chudlori. FLG pun dibuka dengan meriah. Para seniman bergantian mementaskan kesenian dari daerahnya masing-masing.

Ketua Festival Lima Gunung Riyadi mengakui agenda agenda kesenian disuguhkan sangat padat. Para seniman itu sebenarnya tidak diundang sebelumnya, tetapi mereka dengan inisiatif sendiri ingin mementaskan kesenian dari daerahnya masing-masing.

Sesuai tema yang diusung pada festival kali ini “Mari Goblog Bareng” pendiri FLG yang akrab disapa Tanto Mendut ini menjelaskan, diberikannya tema itu pada festival kali ini karena sudah terlalu banyak orang pintar.

“Pada dasarnya kesenian itu tidak bisa diukur dengan apa pun. Kami hanya memberikan wadah kepada para seniman agar dapat berkreasi tanpa di batasi apa pun,” jelas Tanto saat ditemui Radar Jogja di Pendopo Kesenian, Desa Banyusidi, Pakis, kemarin (30/7).

Berbagai pentas kesenian di tampilkan pada festival kali ini, antara lain, jatilan, reog, topeng ireng, kuda lumping, tari gedruk, soreng, brondut, dan drum blek. Meski sempat diguyur hujan, ribuan penonton tetap antusias menyaksikan.

Taufiq Aditya, 33, salah seorang seniman asal Wonosobo mengatakan, ia telah tiga kali mengikuti FLG dan setiap diselenggarakannya festival itu memiliki kesan yang berbeda-beda. “Saya kagum pada festival kali ini karena jumlah pesertanya semakin banyak. Walaupun tidak ada manajemen, rasanya semua dapat terakomodasi dengan baik,” katanya. (cr2/laz/ong)