Bercerita Kisah Cinta Panji Asmoro Bangun dan Legenda Jaka Tarub

Pertunjukan wayang beber masih menjadi tradisi di Gunungkidul. Ternyata ada rahasia di balik eksistensi wayang yang berupa lembaran lukisan itu.
GUNAWAN, Gunungkidul
TUJUH penabuh gamelan duduk bersila ditemani seorang sinden yang bersimpuh di belakang Dalang Ki Karmanto Hadi Kusumo. Alunan gendhing-gendhing Jawa mengalun ritmis, terdengar syahdu di telinga. Saat itu Ki Karmanto bersiap mementaskan sejarah Jawa Klasik yang dimulai di Kerajaan Kediri. Pertunjukan wayang beber digelar di Padukuhan Gelaran II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kamis (27/7) malam. Mengambil lokasi di antara pohon tua berukuran besar yang menjulang tinggi.

Hingga pertunjukan dimulai jumlah penonton nyaris tidak bertambah. Bisa dihitung dengan jari tangan. Namun, hal itu tak menyurutkan ki dalang dan para nayaga-nya untuk menghibur mereka.

Gulungan kertas dibuka perlahan dan muncullah sebuah gambar tokoh pewayangan. Itulah yang disebut wayang beber. Secara fisik berbeda dengan bentuk wayang pada umumnya. Dalam wayang beber setiap tokoh pewayangan dibuat dalam satu karakter. Sebagaimana sebutannya, wayang beber berupa lembaran kertas berisi lukisan tentang cerita pewayangan.

Setiap ujung lembaran ada tongkatnya. Tongkat kayu berfungsi untuk menggulung cerita atau memperlihatkan cerita lanjutan. Saat pertunjukan, dalang menggunakan kayu kecil untuk menunjukkan tokoh yang diceritakan. Jalan cerita wayang beber cukup singkat. Hanya sekitar dua jam. Tidak seperti wayang kulit yang bisa menghabiskan waktu semalam suntuk.

Malam itu Ki Karmanto membeber cerita tentang Panji Asmoro Bangun (Raden Inu Kertapati) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana) yang baru saja menikah. Karena Panji kalah pintar dengan sang istri, dia kemudian memilih menjadi pertapa di Bukit Penanggungan supaya mendapatkan kepintaran.

Sekembalinya dari Pananggungan, Dewi Sekartaji ternyata sudah dilamar orang banyak dan dari bermacam-macam kalangan. Karena kebingungan, Dewi Sekartaji pun membuat sayembara. Siapa yang bisa melewati tongkat yang dia dirikan bisa menjadi suaminya hingga akhir hayat. Mengetahui istrinya menggelar sayembara, Panji Asmoro Bangun lantas menyamar sebagai orang biasa dengan nama Remeng Mangun Joyo. Putra Kerajaan Jenggala itu pun mengikuti “kompetisi” berhadiah perempuan cantik tersebut.

Dan kemenganan berpihak pada Remeng. Tapi, ada beberapa peserta sayembara yang tak terima dan menantang berkelahi yang berakhir dengan peperangan. Di penghujung cerita tetaplah Panji Asmoro Bangun yang keluar sebagai pemenang.
Pertunjukan wayang beger konon merupakan tradisi turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian teater tertua, meskipun tidak banyak literasi yang mencatat perkembangannya.

“Wayang beber sudah ada sejak 1283. Dikenalkan oleh pujangga Ki Sungging Prabangkala,” ujar Ki Karmanto usai mendalang.
Ki Sungging Prabangkala merupakan anak ke lima Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

Tradisi itupun tetap lestari sampai sekarang. Tongkat estafet tradisi leluhur disebutnya tidak pernah putus. Di Gunungkidul, kata Ki Karmanto, pemilik wayang beber asli merupakan generasi ke-14. Namanya Rubiyem. Dia masih terhitung kerabat Ki Karmanto. Sementara dalang berantai yang malakukan pertunjukan ada 20 orang. Dua di antaranya masih hidup, termasuk dirinya.

Wayang beber asli tergolong barang langka. Menurut Ki Karmanto, wujud fisik orisinil wayang beber hanya ada dua. Selain yang dimiliki Rubiyem, satu perangkat lagi milik warga Pacitan, Jawa Timur.

Ki Karmanto sendiri menguasai ilmu pedalangan juga secara turun-temurun sebagai salah satu silsilah pemilih asli wayang beber. Sudah 15 tahun dia menjaga eksistensinya. Untuk menjaga garis keturunan pelestari wayang beber, kini Ki Karmanto terus mengasah kemampuan salah seorang keponakannya.

Selain menceritakan kisah cinta Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji, wayang beber versi lain bercerita tentang legenda Jaka Tarub.

Nah, khusus wayang beber Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji terdiri atas delapan gulung. Setiap gulungnya memuat tiga cerita.

Setiap wayang yang dipentaskan merupakan duplikat. Wayang aslinya disimpan dengan rapi oleh Rubiyem.
Pertunjukan malam itu merupakan pentas pertama menggunakan wayang beber duplikat. Meski bukan asli, kata Ki Karmanto, bentuknya sama persis dengan yang asli. “Ini yang membuat dosen dari ISI Jogjakarta, bahannya dari kertas,” ungkapnya sambil menunjukkan selembar wayang beber.

Wayang beber asli terbuat dari kulit kayu. “Namun sampai sekarang belum ada yang tahu jenis kayu yang digunakan,” sahut Wisto Utomo, anak Rubiyem, memperjelas keterangan Ki Karmanto.

Menurutnya, bentuk fisik wayang beber asli sebagian sudah sobek. Demi menjaga kualiasnya supaya tidak rusak wayang beber asli disimpan di dalam kotak kecil berukuran 1,5 meter persegi. Di dalamnya ditaruh bulu merak.(yog/ong)