SLEMAN – Simulasi Penanggulangan Keadaan Darurat Dirgantara Raharja ke-92 di Bandara Internasional Adisutjipto Jogjakarta meninggalkan sejumlah catatan. Paling krusial adalah rumah sakit terdekat belum siap menghadapi darurat kecelakaan udara. Selanjutnya, beberapa alat pemadam kebakaran portable tidak berfungsi secara optimal.

Direktur Utara PT Angkasa Pura I Danang Setio Baskoro membenarkan temuan ini. Menurutnya, simulasi terebut menjadi evaluasi menyeluruh bagi seluruh stakeholder. Tidak hanya bagi manajemen Angkasa Pura I, tapi juga penyedia fasilitas umum di Jogjakarta.

“Seperti RSAU dr Hardjolukito itu ternyata ruang ICU-nya kurang memadai. Hanya bisa menampung tiga korban pesawat jatuh. Akhirnya di luar harus didirikan tenda darurat,” jelasnya usai simulasi di Bandara Internasional Adisutjipto Jogjakarta, kemarin (27/7).

Ke depan Angkasa Pura I akan menegaskan kerja sama dengan jajaran rumah sakit di Jogjakarta. Total ada 10 rumah sakit yang menjadi rujukan. Salah satu fungsinya adalah mengatasi situasi darurat tak terduga di Bandara Adisutjipto Jogjakarta.
Mengenai alat pemadam portable yang tidak berfungsi optimal, pihaknya segera mengevaluasi. Danang menjelaskan, fungsi dari simulasi tersebut guna menyisir kemampuan evakuasi. Baik itu sumber daya manusia, peralatan, dan standard operating procedur (SOP).

“Langsung bisa terevaluasi, apakah tiga aspek tersebut optimal jika terjadi situasi seperti ini,” ujarnya.

Simulasi ini terbagi dalam dua tahapan. Pertama menghadapi peristiwa kebakaran di gedung kargo sisi timur. Selanjutnya proses evakuasi pesawat jatuh di ujung Runway 27. Skenarionya, penerbangan Koala Air tujuan Australia-Jakarta mengalami kerusakan mesin nomor 2.

Proses evakuasi pesawat jenis Airbus A320 CQ-ANK berpenumpang 143 orang ini melibatkan seluruh elemen Bandara Adisutjipto Jogjakarta. Mulai dari petugas medis, Air Traffic Control (ATC), Airport Rescue and Fire Fighting (ARFF), Aviation Securty (AVSEC) hingga Paskhas TNI AU.

Radar Jogja mencatat setidaknya perlu waktu sekitar 20 menit untuk proses evakuasi. Diawali pesawat jatuh pada pukul 09.43. Pemadaman apir oleh ARFF rampung pukul 09.47 dan proses evakuasi bertahap rampung sekitar pukul 10.00.

“Pengawasan simulasi tidak hanya sekadar di bandara saja. Tapi melihat hingga rumah sakit untuk penanganan lanjutan. Karena memang harus kompleks agar evaluasi bisa menyeluruh,” jelasnya.

Danang mengungkapkan simulasi tidak menggangu jadwal penerbangan. Angkasa Pura I telah menerbitkan notice to airmen (notam) yang diserahkan ke seluruh bandara dunia. Bahkan notam ini telah dikirimkan seminggu sebelum simulasi penanganan kedaruratan bencana.

“Jadi bandara close selama satu jam antara 09.30 hingga 10.30. Jadi maskapai yang mau berangkat dari bandara memundurkan jadwal penerbangan. Begitu pula dengan keberangkatan, sudah di re-schedule jamnya,” ujarnya. (dwi/ila/ong)