RADARJOGJA.CO.ID – PURWOREJO-Kasus penyakit tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Purworejo relatif masih tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, ditemukan 500 kasus per tahun. Sedangkan pemkab menargetkan bisa mendapatkan suspect TB hingga 700 orang.

“Kami terkendala beberapa hal. Di antaranya rendahnya tingkat pemahaman masyarakat dan keenganan mereka memeriksakan diri ke puskesmas,” kata Kasi Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo Triyo Dermaji kemarin (27/7).

Dari angka 500 yang diperoleh biasanya karena mereka memeriksakan diri ke puskemas dan terindentifikasi. Padahal di luar itu, dimungkinkan ada masyarakat lain yang terkena karena mudahnya penularan.

Penderita TBC yang tidak tertangani atau memutus rutinitas pengobatan bisa menjadikan penderita kebal dan ini membahayakan karena bisa mengancam nyawanya. Untuk itu diperlukan pendampingan khusus kepada penderita yang akan memantau pemberian obat. “Cara mendeteksi yang terindikasi TBC antara lain batuk berdahak sampai dua minggu tidak sembuh, kurus, makan tidak enak, berat badan menurun dan berkeringat malam tanpa aktivitas,” imbuh Triyo.

Dinas Kesehatan sendiri memberikan obat TBC di setiap puskemas.Masyarakat bisa memeriksa dan mendapatkan obat secara gratis. Masa penyembuhan TBC itu sampai enam bulan. Di sini kadang karena sudah merasa sehat, penderita tidak minum obat lagi. “Jika lepas dari fase 6 bulan dan mereka masih sakit, akan ditindaklanjuti lagi,” tambahnya.

Terkait hal itu, Dinas Kesehatan Puworejo menyambut adanya kerja sama pendampingan pemberian obat dari orang terdekat yang dilakukan PD Muhammadiyah melalui Aisyiyahnya.

Setidaknya ada enam orang kader TBC yang akan mencari penderita di delapan kecamatan.”Kami mengerahkan ada 48 relawan diman setiap kecamatan ada enam orang yang akan mencari suspect TBC. Mereka akan kami dekati dan dirujuk ke Puskemas terdekat untuk melakukan pemeriksaan,” kata Ketua Majelis Kesehatan Aisyiyah Purworejo Sri Nurhayati.

Para relawan ini akan bergerak di lapangan dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. Mereka memiliki kewajiban mendatangi rumah penderita dan mengumpulkan informasi yang diperlukan. “Ini tidak sekadar mencari karena kami akan menuntaskan sampai warga
ini benar-benar sembuh,” imbuh Sri. (udi/din/ong)