JOGJA – Anak-anak yang tergabung dalam Forum Anak Kota Jogja (Fakta) meminta Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti untuk menyediakan fasilitas publik yang ramah untuk anak dan remaja. Tujuannya, untuk memberikan lingkungan yang nyaman bagi anak bermain dan berekspresi.

“Kami anak Kota Jogja, ingin ada peningkatan kualitas dan penambahan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan lingkungan yang ramah anak,” ujar salah satu perwakilan Fakta Timothy dalam peringatan Hari Anak Nasional di Balai Kota Jogja, kemarin (27/7).

Timothy yang duduk di bangku SMP ini berharap, Pemkot Jogja membuat kegiatan yang membentuk karakter anak sebagai pelopor dan pelapor perlindungan anak. Serta pengoptimalan peran keluarga dalam pemenuhan hak anak. Juga implementasi Satgas Perlindungan Anak di Kota Jogja.

Poin-poin yang dia sampaikan merupakan hasil diskusi bersama anak-anak Kota Jogja yang bergabung dalam Fakta. Sejak beberapa bulan yang lalu, Fakta sudah mengumpulkan masukan dari anak-anak di seluruh Kota Jogja. “Masukan ini murni hasil suara anak-anak di Kota Jogja,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, HS, sapaan Haryadi Suyuti, meminta semua komponen masyarakat secara aktif melindungi anak-anak. HS menyebut, lingkungan terkecil mulai dari keluarga, RT hingga RW harus sudah ramah anak.

Secara khusus, HS berpesan kepada keluarga untuk lebih peduli kepada anak-anak. Hal itu juga mengacu beberapa kasus kekerasan anak yang justru orang tuanya tidak tahu.

“Sekarang kalau ada persoalan hukum yang bertanggung jawab pertama adalah keluarga. Kalau ada kasus yang ditanya pertama orang tuanya,” ujar suami Tri Kirana Muslidatun itu.

Untuk itu, HS juga meminta supaya orang tua terus memperhatikan anak-anaknya. Salah satu yang harus diperhatikan, jelas HS, adalah memastikan jika mereka harus mengetahui password gadget maupun media sosial yang dimiliki putra-putrinya. “Jangan sampai orang tua lebih gaptek dari anaknya,” tuturnya.

Ayah dua putri itu juga mengingatkan kepada orang tua supaya tidak memberikan fasilitas yang belum pada waktunya. Yang dimaksudnya adalah pemberian motor bagi anak-anak yang belum memiliki surat izin mengemudi. Yang menjengkelkannya ketika ditanya alasannya, orang tua mengaku sibuk dan tidak sempat mengantarkan anak ke sekolah.

“Tahun depan tidak ada lagi alasan seperti itu, tahun depan akan sediakan bus sekolah,” tegasnya. (pra/ila/ong)