RADARJOGJA.CO.ID – Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah acara The Asian Conference on Clinical Pharmacy (ACCP) ke-17. Konferensi yang diselenggarakan di Hotel Tentrem Jogja ini diikuti lebih dari 1.500 orang yang merupakan para pakar obat atau apoteker. Mereka berasal dari sepuluh negara yaitu Jepang, Cina, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, Vietnam, Singapura, dan Iran.

Dalam konferensi ini yang berlangsung dari Kamis-Senin (27-31 Juli ) mengambil tema Unity in Diversity and the Standardisation of Clinical Pharmacy Services. Tema ini dipilih dengan mempertimbangkan adanya perbedaan dalam perkembangan dan implementasi pelayanan farmasi klinis di setiap negara. Sehingga, akan memberikan dampak pula dunia pendidikan dan penelitian.

“Dalam konferensi ini, pematerinya ada lebih dari 150 orang. Materi ada berupa makalah dan poster,” kata Ketua Panitia ACCP ke-17, Dr. Suharjono, M.S. Apt kepada Radar Jogja Jawa Pos Group disela-sela acara, Jumat (28/7).

Menurutnya, para farmasis klinik menghadiri pertemuan ini untuk berbagi pengalaman dalam praktek farmasi klinik dan transfer ilmu pengetahuan. Kegiatan The Asian Conference on Clinical Pharmacy diselenggarakan setiap tahun sejak 1979 di Alabama, USA. Pada 2017, konferensi tahunan ini akan diselenggarakan di Indonesia oleh Fakultas Farmasi Universitas Airlangga bekerja sama dengan Ikatan Apoteker Indonesia, dan dibantu oleh Universitas Gadjah Mada, Universitas Sanata Dharma, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Islam Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

“Acara ini sangat bermanfaat bagi dunia farmasa khususnya di tanah air,” jelas Suharjono.

Tujuan kegiatan ini adalah mendorong pengembangan kepemimpinan dan advokasi farmasi klinis dan di Asia, mencari partisipasi praktisi pendidik peneliti, ilmuwan, administrator, mahasiswa, warga, rekan, dan lainnya yang berkomitmen untuk keunggulan dalam farmasi klinis di Asia. Kemudian mempromosikan praktek interdisipliner, pendidikan, dan model penelitian di Asia dan meningkatkan nilai layanan farmasi klinis dalam sistem perawatan kesehatan di Asia serta mendorong dokumentasi layanan farmasi klinis dan intervensi di fasilitas perawatan kesehatan di Asia.

“Para anggota konferensi berharap adanya saling membantu pembentukan layanan farmasi klinis di semua pengaturan perawatan kesehatan di Asia dan menyebarluaskan inovasi baru dan penelitian di bidang farmasi klinis di Asia,” papar Suharjono.

Menurut Suharjono, saat ini para akademisi dan peneliti sangat selektif memilih kegiatan konferensi internasional. Sebab, mereka memprioritaskan penyelenggara konferensi dengan melihat jurnal internasional terindeks database Scopus ataupun Thomson Reuteurs. “Jadi, makalah yang dipresentasikan setidaknya harus layak diterbitkan jurnal internasional,” terang Suharjono.

Konferensi yang berlangsung lima hari ini tersebut diikuti oleh para farmasis praktisi, akademisi, dan peneliti. Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek yang sedianya akan membuka konferensi berhalangan hadir. Kemudian digantikan oleh Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Maura Linda Sitanggang. (mar)