RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO-Kekerasan terhadap perempuan ternyata tidak hanya terjadi dalam biduk rumah tangga. Hal itu juga rentan dialami kaum Hawa ketika masa pacaran. Setidaknya hal itu menjadi catatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rifka Annisa Jogja selama periode Januari hingga 10 Juli 2017 . Hasil riset organisasi yang konsen sebagai pendamping perempuan itupun cukup mencengangkan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Kulonprogo.

Konselor Psikologi Rifka Annisa Budi Wulandari mengungkapkan, selama enam bulan terakhir terdapat 140 kasus kekerasan terhadap perempuan. Dari jumlah tersebut mayoritas merupakan tindak kekerasan terhadap istri dengan 104 kasus. Disusul perkosaan (17), kekerasan saat berpacaran (9), pelecehan seksual (5), dan kekerasan dalam rumah tangga (5).
“Kekerasan saat pacaran rata-rata dialami perempuan usia 18-45 tahun,” ungkapnya kemarin (26/7).

Untuk mencegah aksi kerasan terhadap perempuan, Wulan, sapaannya, mengimbau siapapun yang mengalaminya tidak segan mengadu ke lembaganya. Atau langsung melapor ke aparat yang berwenang. Jika dibiarkan begitu saja, Wulan khawatir kasus kekerasan justru kian merajalela.

Menurutnya, kekerasan ibarat fenomena gunung es. Wulan meyakini, jumlah riil angka kekerasan lebih banyak dibanding yang dilaporkan ke lembaganya.

Jika dirinci berdasarkan bentuknya, kata Wulan, kekerasan terbagi atas 15 kriteria. Mulai penghukuman bernuansa seksual, pemaksaan kehamilan dan pernikahan, penyiksaan seksual, perdagangan perempuan, aborsi, eksploitasi seksual, perbudakan seksual, hingga sunat perempuan.

Pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan berbusana, prostitusi paksa, perkosaan, ancaman perkosaan, dan pelecehan seksual juga termasuk bentuk kekerasan fisik.

Segala bentuk kekerasan harus dihindarkan karena dapat menimbulkan berbagai dampak. Baik fisik maupun psikis, kesehatan reproduksi, dan perilaku. Bahkan dampak sosial dan ekonomi.

“Korban bisa mengalami luka di bagian tubuh, ketakutan, keguguran, sensitif, dan mudah marah lalu mengisolasi diri. Tak jarang korban (perempuan) diperjualbelikan atau ditelantarkan,” paparnya.

Wulan tak memungkiri jika kekerasan tak hanya menimpa perempuan. Tapi juga dialami kaum Adam. Hal itu lebih banyak terjadi karena istri selingkuh. Pria (suami) lebih sering mengalami kekerasan batin.

Karena itu, demi mencegah kekerasan perempuan maupun laki-laki dalam rumah tangga, Wulan mengimbau suami-istri selalu menjaga komunikasi. Keduanya harus saling terbuka demi keutuhan rumah tangga.

Kasus kekerasan perempuan di Kota Jogja tak jauh berbeda. Kendati demikian, Forum Perlindungan Korban Kekerasan Kota Jogja mencatat jumlah kasus kekerasan sejak 2013 hingga 2016 lalu terus mengalami penurunan. Bukan hanya menimpa perempuan dan laki-laki, tapi juga kalangan anak-anak. Sekitar 20 persen kasus kekerasan di Kota Jogja dialami anak-anak. “Ironisnya, para pelakunya justru orang-orang terdekat atau bahkan keluarga sendiri,” kata Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Jogja Octo Noor Arafat.

Menurutnya, dari semua kasus kekerasan yang dilaporkan ke aparat, hampir separo telah selesai. Sisanya masih diproses secara hukum.

Octo mengakui, dibanding daerah lain angka kekerasan di Kota Jogja paling tinggi. Namun, dia menengarai hal itu bukan semata-mata jumlah kasusnya yang memang sangat banyak. Tapi karena kesadaran korban untuk melapor juga tinggi. Sistem pelaporannya pun relatif lebih mudah dibanding daerah lain.

Untuk penanganan, pemkot menyediakan Pelayanan Terpadu PerlindunganPerempuandan Anak (PTP2A). Tak hanya lembaga berbadan hukum, pemkot juga menyediakan sarana untuk menampung korbankekerasandalam rumah tangga. Di antaranyaRekso Dyah Utami sebagai pusat pelayanan terpadu kasuskekerasanterhadapperempuandan anak atau Panti Sosial Karya Wanita milik Pemprov DIJ.

Untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak pemkot juga membentuk Satuan Tugas Siap Gerak AtasiKekerasan(Sigrak) di tiap kelurahan. Tiap satuan beranggotakan dua orang. Selain itu, Octo berharap tiap keluarga dan lingkungan masyarakat bersedia ikut menjaga dan menerima korban kekerasan. (tom/pra/yog/ong)