RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Sejak tiga tahun lalu Pemkot Jogja selalu disibukkan upaya pembersihan tembok-tembok jalan dari aktivitas coret-coret atau vandalisme. Tapi saat itu pemkot sempat dikritik para penggiat seni karena beberapa street art dan karya mural ikut dihapus.

Terkait persoalan tersebut Pembantu Rektor II Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Age Hartono menegaskan adanya perbedaan mural dan vandalisme. “Itu jelas bedanya,” kata Age di sela pencanganan Let’s Colour Walls of Connection di Kampung Beji, Purwokinanti, Pakualaman kemarin (26/7).

Dikatakan, vandalisme merupakan aksi coret-coret yang tidak terencana dan tak terkontrol. Sedangkan mural adalah karya lukisan dinding yang bersifat semi permanen. Mural dibuat dengan memperhatikan aspek estetika. Mengenai mural, menurut Age, bisa dikoordinasikan dengan Pemkot Jogja. Dengan begitu warga bisa bebas berekspresi, sekaligus memperindah lingkungan tempat tinggal mereka.

Bagi Age, realisasi kebijakan itu tergantung kemauan pemerintah daerah setempat dalam penataan wilayah. “Mural itu seni publik yang bisa mempercantik kota,” klaimnya.Hal senada disampaikan Kepala Bagian Kesejahteraan Biro Kesejahteraan Rakyat Setprov DIJ Endah Mawarni saat membacakan pernyataan Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X. Suasana tata ruang Kota Jogja justru lebih indah dengan memperbanyak mural.

Lebih dari itu, mural diyakini bisa meminimalisasi aksi vandalisme. “Yang ada nanti tinggal mural untuk dinikmati keindahanya oleh siapapun yang lewat,” ujarnya.Bagi warga Beji, eksistensi mural di Jogja bisa mencontoh keberhasilan Pemkot Semarang menata kawasan Randusari atau Pemkot Malang yang menyulap Kampung Jodipan menjadi kampung pelangi untuk mengundang daya tarik wisatawan. Dengan catatan ada kemauan dari warga setempat untuk penataan kampong mereka.

Seperti warga Beji yang merelakan tembok-tembok rumah mereka dibuat mural. “Kami menyambut baik. Dulu hanya coretan nama geng tidak jelas, sekarang gambar mural lebih nyaman dipandang,” kata Ketua RT 11/RW 02 Purwokinanti Supriyanto.Warga Beji turut dilibatkan dalam proses pembuatan mural. Hal itu menambah antusiasme warga untuk mempercantik wilayah tempat tinggal mereka. Warga Beji juga dibantu mahasiswa ISI. Pembuatan mural rencananya diteruskan hingga bantaran Sungai Code. (pra/yog/ong)