SLEMAN – Pangkalan Udara (Lanud) Adisutjipto akan menggelar Hari Bhakti ke-70 TNI AU tahun ini. Berbagai kegiatan dipersiapkan, guna mengenang momen bersejarah dari para pejuang TNI AU.

Komandan Lanud (Danlanud) Adisutjipto Marsekal Pertama (Marsma) TNI Novan Samyoga menjelaskan, peringatan Hari Bhakti yang jatuh pada Sabtu (29/7) mempunyai makna dan sarat nilai kejuangan bagi prajurit TNI AU. Pada hari itu, tepatnya pada 1947 terdapat peristiwa penting yang menjadi catatan tersendiri bagi sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Peristiwa yang pertama, jelasnya, keberhasilan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dalam melakukan serangan udara terhadap kedudukan militer Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga.

“Serangan ini merupakan serangan udara yang pertama kali dilakukan oleh AURI,” jelasnya dalam keterangan persnya kemarin (26/7).

Sedangkan peristiwa kedua, sambungnya, tertembaknya pesawat Dakota VT-CLA yang mengakibatkan gugurnya para perintis AURI, yakni Komodor Muda Udara Prof Abdulrachman Saleh, Komodor Muda Udara A. Adisutjipto, dan Opsir Muda Udara Adi Soemarmo Wirjokusumo.

Oleh karenanya, untuk mengabadikan peristiwa gugurnya para tokoh dan perintis Angkatan Udara tersebut, sejak 29 Juli 1955 diperingati sebagai Hari Berkabung AURI.

“Pada 1962 diubah menjadi Hari Bakti TNI AU. Sejak saat itu seluruh warga TNI AU memperingatinya secara terpusat di Pangkalan Udara Adisutjipto,” jelasnya.

Sementara itu, Kapentak Lanud adisutjipto Mayor Sus Giyanto menjelaskan,rangkaian kegiatan dalam mengenang peristiwa itu meliputi acara pokok ziarah dan malam tirakatan di Monumen Ngoto. Dilanjutkan dengan upacara militer dengan inspektur upacara Kepala Staf TNI AU Marsekal Hadi Tjahjanto. Kemudian dilanjutkan wisuda purnapati bertempat di Kampus AAU. “Pada Sabtu dinihari hari akan dilaksanakan napak tilas,” jelasnya.

Pada kegiatan napak tilas akan dipamerkan pesawat legendaris pesawat Cureng, yang dipergunakan untuk operasi pengeboman tangsi Belanda di Salatiga, Ambarawa, dan Semarang. Penampilan Cureng di acara napak tilas ini adalah yang pertama kalinya dalam peringatan Hari Bhakti.

“Cureng merupakan pesawat peninggalan dari Jepang dan sekarang keberadaan pesawat cureng di dunia hanya ada di Indonesia,” jelasnya. (bhn/ila/ong)