RADARJOGJA.CO.ID – GUNUNGKIDUL – Kenaikan harga bawang merah tidak menjadi masalah sepanjang terkendali. Namun jika harga sudah sulit dikontrol memberikan pengaruh terhadap inflasi. Menyikapi persoalan tersebut, Warga Tanjung I, Bleberan, Playen berupaya memenuhi kebutuhan bawang merah dengan memaksimalkan pekarangan.

Ketua Kelompok Tani Taruna Manunggal Heru Setyawan mengatakan memasuki musim kemarau dimaksimalkan warga menanam bawang merah dan cabai. Selain pekarangan pribadi, masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani memanfaatkan lahan khusus untuk bawang merah dan cabai.

“Di setiap rumah, warga mulai menanam bawang merah dan cabai. Dengan demikian, meski harga di pasaran naik, pengaruhnya tidak terasa,” kata Heru Setyawan.

Kemarin digelar panen raya bawang merah bersama Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Pertanian Bogor bersama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jogjakarta kemarin (25/7).

Dikatakan, khusus untuk tanaman bawang merah pada lahan khusus, kelompok tani mendapatkan pendampngan pemerintah. Menempati lahan seluas 2,5 hektare dibangun penguatan tekhnologi pertanian dengan tenaga surya.

“Menggunakan tenaga surya, mata air dari sungai dapat diangkat untuk menyirami tanaman,” ujarnya.

Dia berharap ledakan organisme tanaman saat musim kemarau dapat teratasi dengan teknologi sistem pengairan dam parit yang dipadukan dengan sistem pompa bertenaga surya. Jangka panjangnya, petani menghendaki sistem tersebut dapat diproduksi masal sehingga mampu meningkatkan hasil pertanian.

Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Pertanian Bogor Harmanto mengatakan penguatan teknologi pertanian dan tanaman pangan dengan menanam bawang merah di lahan tandus sangat tepat.

“Diharapkan dapat menekan inflasi khususnya pada harga bawang merah dan cabai merah di Indonesia,” kata Harmanto.

Dia menjelaskan, teknologi tersebut secara kajian dinilai lebih ekonomis karena sumber tenaga pengangkat air berasal dari tenaga matahari. Meski bertanam di musim kemarau dengan pengairan yang cukup hasil tanaman bawang merah dapat memuaskan.

Selain dengan sistem dam parit dan pompa tenaga surya, penanaman bawang merah dapat dilakukan melakui sistem mulsa dan non-mulsa. Material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit.

“Sistem mulsa sangat cocok diterapkan pada daerah tandus karena dapat menghemat air. Non-mulsa juga tetap bisa dilakukan, namun tadi kami lihat hasil tanaman lebih baik yang menggunakan mulsa,” terangnya. (gun/iwa/ong)