RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Sebanyak 3.165 calon jamaah haji (calhaj) DIJ siap diberangkatkan ke Tanah Suci secara bertahap mulai 18 Agustus mendatang. Mereka terbagi dalam sembilan kloter (kelompok terbang). Mulai kloter 25-31. Diberangkatkan dari Embarkasi Solo.

Saat calhaj pamitan di Bangsal Kepatihan kemarin (25/7) Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X mewanti-wanti pentingnya persiapan fisik dan mental. Mengingat kondisi suhu dan cuaca di Indonesia jauh berbeda dengan Arab Saudi. Apalagi sekitar 34,18 persen caljaj DIJ berusia lebih dari 61 tahun. “Persiapan harus matang supaya bisa menjalankan ibadah secara mandiri,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu Wagub menyoroti keberadaan para petugas haji. Agar benar-benar menjalankan tugas sebagai pendamping caljaj. “Itu tugas utama petugas haji. Bukan calon haji yang sedang bertugas,” ingatnya.

Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) DIJ Muhammad Lutfi Hamid menambahkan, kuota calhaj DIJ sebenarnya 3.132. Belakangan ada tambahan kuota dari tim pendamping haji daerah dua orang dan mutasi masuk 40 orang. Jumlah itu dikurangi mutasi keluar sembilan orang, sehingga totalnya 3.165 calhaj.

“Dibanding tahun lalu ada kenaikan 27,58 persen. Pada 2016 DIJ memberangkatkan 2.455 calon haji,” jelas mantan kepala Kantor Kemenag Sleman itu.

Lebih lanjut Lutfi mengatakan, seluruh calhaj didampingi 45 petugas kloter.
Tiap kloter didampingi lima petugas. Terdiri atas seorang tim pemandu haji Indonesia (TPHI), seorang tim kesehatan haji Indonesia (TKHI), seorang dokter, dan dua TKHI paramedis.

Dikatakan, petugas kloter tak hanya bertugas mendampingi calhaj demi kesempurnaan ibadah mereka, tapi juga memerhatikan kesehatan mereka. “Calon haji lansia memang perlu layanan maksimal demi kelancaran ibadah mereka,” lanjutnya.

Menurut Lutfi, masalah kesehatan sering menjadi kendala para calhaj. Selain faktor cuaca, jenis dan pola makanan juga bisa berpengaruh pada kesehatan. Lutfi tak memungkiri bahwa ibadah haji menguras energi cukup besar. karena itu tiap calhaj harus selalu fit. “Bagi yang mengidap penyakit dan butuh perhatian jangan diampet,” pesannya.

Lutfi mengklaim, pihaknya telah berupaya maksimal meningkatkan kualitas pelayanan haji tahun ini. mulai keberangkatan, selama berada di Tanah Suci, hingga sekembali mereka di tanah air.

Dia optimistis para petugas pendamping haji bisa bekerja maksimal. Itu setelah mereka mendapat pelatihan selama sepuluh hari, sejak 31 Mei hingga 9 Juni lalu.

Sarjinem Juweni, 84, calhaj asal Umbulharjo, Kota Jogja, mengaku sangat bersyukur bisa berangkat ke Makkah setelah menanti selama tujuh tahun. Juweni yang kemana-mana harus menumpang kursi roda didampingi anaknya, Peni Samsu Haryani, yang usianya juga telah menginjak 62 tahun.

“Untuk jemaah kursi roda dimudahkan. Sejak awal ikut bimbangnan dalam latihan dan nanti di sana ada jalur khusus untuk kursi roda,” Peni.

Selain berkursi roda, pendengaran Juweni sudah berkurang. Meski sangat sepuh, lanjut Peni, sudah sejak lama ibunya berhasrat menunaikan rukun Islam kelima itu. Bahkan, Juweni mengumpulkan biaya sendiri selama hampir 30 tahun. (dya/yog/ong)