RADARJOGJA.CO.ID – GUNUNGKIDUL – Profesi wartawan lagi-lagi dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab untuk tujuan kriminal. Tak lagi bermodus minta sumbangan lewat pesan SMS untuk biaya pengobatan jurnalis sakit. Di Gunungkidul pria bernama Anton Nurcahyo diduga lebih terang-terangan dalam mengelabuhi korbannya. Warga Nglipar, Gunungkidul, itu mengaku sebagai wartawan media Suara KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Dengan status abal-abalnya itu Anton memperdaya Suwaryanto, warga Karangkidul, Semugih, Rongkop, Gunungkidul.

Sadar menjadi korban penipuan, Suwaryanto lantas melaporkan Anton ke Polres Gunungkidul. Suwaryanto menduga, terlapor sengaja bermaksud menipunya sejak awal perkenalan mereka pada 2016. Ketika itu terlapor berjanji bisa menjadikan Suwaryanto pegawai negeri sipil (PNS) setelah menyetorkan sejumlah uang.

“Saya percaya saja karena waktu itu dia (terlapor) mengaku dari wartawan Suara KPK. Selain itu juga menunjukkan surat berstempel Badan Kepegawaian Negara (BKN),” sesal Suwaryanto kemarin (24/7).

Suwaryanto diberikan beberapa opsi. Untuk menjadi PNS golongan II/a dia harus membayar Rp 274 juta, II/b Rp 340 juta, dan II/c Rp 391 juta. Suwaryanto pun memilih golongan II/a dan membayar Rp 274 juta secara bertahap selama kurang lebih delapan bulan.

“Semula saya tidak curiga karena setiap pembayaran selalu disertai bukti kuitansi bermaterai,” ujarnya.
Belakangan Suwaryanto mulai curiga lantaran tak pernah mendapat kepastian. Padahal dia sudah setor uang kepada terlapor hingag Rp 150 juta.

“Beberapa kali saya hubungi dia (terlapor) selalu menghindar dengan alasan macam-macam. Akhirnya saya melapor ke polisi dengan tuduhan penggelapan,” lanjut pria paro baya itu.

Suharno SH, penasihat hukum Suwaryanto, melaporkan Anton dengan tuduhan pelanggaran pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penipuan dan pasal 372 KUHP tentang penggelapan.

“Namun atas laporan tersebut, klien saya justru dilaporkan balik ke polisi dengan tuduan pemalsuan tanda tangan. Sepertinya dia (terlapor) sengaja mengubah-ubah tanda tangan di kuitansi pembayaran agar punya senjata untuk melaporkan balik,” ungkapnya. Kasus ini masih dalam pengembangan penyelidikan kepolisian.

Kasubag Humas Polres Gunungkidul Iptu Ngadino enggan berkomentar atas pelaporan kasus tersebut. Ngadino berdalih penanganan perkara tersebut masih tahap penyelidikan awal, sehingga belum bisa dipublikasikan. (gun/ong)