RADARJOGJA.CO.ID – GUNUNGKIDUL – Harga garam melonjak tajam di angka yang tidak wajar. Di Gunungkidul, harga salah satu bumbu dapur itu meroket tajam hingga 500 persen. Kondisi tersebut terpantau di Pasar Argosari, Wonosari.
Salah seorang pedagang bumbon Sulastri,62, mengatakan lonjakan harga garam di pasar tradisional terbesar di Gunungkidul itu terjadi sejak dua bulan terakhir. “Ini angka termahal sepanjang sejarah saya jadi pedagang. Tiap hari naik terus harganya,” keluhnya kemarin (24/7).

Sulastri mencontohkan produk bermerek Zebra. Tiap bal garam beryodium isi 10 bungkus itu semula dijual Rp 15 ribu. Sebulan lalu naik menjadi Rp 25 ribu dan saat ini menyentuh angka Rp 77 ribu. Jika diecer, garam yang semula berkisar Rp 2.500 – Rp 3.000 per bungkus kini tembus hingga Rp 7.500- Rp 9.000. Bahkan sebagian pedagang ada yang menjualnya Rp 10 ribu.

Tidak hanya garam dalam kemasan bermerk yang mengalami kenaikkan harga. Garam jenis krosok dengan kualitas terendah pun melonjak tak terkendali. Semula harga garam nonyudiom Rp 20 ribu per karung isi 20 kilogram, saat ini tembus hingga Rp 100 ribu.

“Saya menjual eceran Rp 5 ribu per kilogram. Semula hanya Rp 1000. Kemungkinan masih naik lagi,” ucapnya.
Selain mahal, komoditas bumbu berasa asin itu kian sulit ditemui di pasaran. Pasokan garam Zebra yang biasanya datang tiap minggu hingga ratusan bal, saat ini hanya ratusan bungkus.

Sulastri tak tahu penyebab harga garam yang terus menanjak. Dia hanya memperoleh informasi bahwa hal itu akibat kondisi wilayah pemasok garam di Pati, Jawa Tengah, masih sering dilanda hujan. Akibatnya, produksi garam berkurang.
“Jumlah pembeli memang tidak berkurang. Namun mereka sambat (mengeluh). Ini bukan naik lagi tetapi ganti harga,” ujarnya.

Dampak lonjakan harga garam mulai dirasakan pelaku usaha rumahan pembuat kerupuk di Kecamatan Ponjong. Basuki, salah satunya. “Setelah harga bawang naik, disusul garam. Bagaimana bisa berkembang usaha kecil kami kalau seperti ini. Tolonglah pemerintah memperhatikan nasib wong cilik,” kata Basuki pasrah.

Terpisah, Kepala Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gunungkidul Supriyadi membenarkan kondisi harga garam yang kian tak terkendali sejak Ramadan. Kendati demikian, dia mengaku tak bisa berbuat banyak untuk mengendalikan harga tersebut.

“Kenaikannya memang luar biasa. Kami akan koordinasi dengan Pemprov DIJ untuk menyikapi persoalan ini,” katanya.
Supriyadi menduga, kenaikan harga garam yang tak wajar di Bumi Handayani lantaran wilayahnya sangat menggantungkan pasokan produk asin tersebut dari wilayah lain. (gun/yog/ong)