Masyarakat Maju Itu yang Bahagia, Bukan Kaya Raya

Jogjakarta mampu menjadi magnet bagi daerah lain dalam hal pembangunan. Setelah gubernur terpilih DKI Jakarta Anies Baswedan belajar penataan kawasan sungai di bantaran Winongo, kini giliran Wali Kota Bandung Ridwal Kamil acungi jempol konsep pedestrian Malioboro.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
Tiga hari lalu Anies Baswedan jalan-jalan menyusuri bantaran Sungai Winongo. Dia berniat menimba ilmu konsep M3K, yakni mundur, madhep, munggah kali. Konsep yang ditelurkan Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X, yang intinya menata wilayah sempadan sungai yang selama ini banyak berdiri bangunan rumah warga, namun tanpa penggusuran. Tapi lebih mengedepankan sikap persuasif untuk menggugah kesadaran warga setempat.

Kemarin (21/7) giliran Ridwan Kamil menyoroti pembangunan kawasan pedestrian Malioboro. Bagi Kang Emil, sapaan akrabnya, Jogja dan Bandung merupakan dua kota serupa tapi berbeda. Sama-sama kota wisata dan pelajar, serta didukung masyarakat yang memegang teguh budaya masing-masing. Sisi perbedaannya ada di konsep pembangunan ikon wisata Jogja.

Kang Emil mengapresiasi konsep semi pedestrian Malioboro. “Selain menjadi daya tarik wisatawan konsep itu memberi sisi positif bagi warga Jogja. Konsep ini tentu saja bisa diterapkan di jalan-jalan lainnya,” ungkapnya saat menjadi pembicara seminar “Implementasi Akuntabilitas Kinerja Pembangunan Daerah Melalui Percepatan Pembangunan Infrastruktur Kawasan yang Humanis dan Berkelanjutan” di Hotel Inna Garuda.

Kang Emil lantas mencontohkan apa yang telah dilakukannya di Bandung. Bisa dibilang selama tiga tahun kepemimpinannya di ibu kota Provinsi Jawa Barat itu kini tak ada lagi ruang terbuka yang “menganggur”. Dia mengonversi ruang-ruang publik menjadi area kegiatan positif, sehingga membuat nyaman pemakainya. “Masyarakat maju itu adalah yang bahagia. Bukan yang kaya raya,” ungkap Kang Emil membocorkan prinsip di balik ide-ide cemerlangnya membangun Bandung. Prinsip itu pula yang melatarbelakangi beberapa program pembangunan di Kota Kembang. “Hal ini tentu bisa aplikasikan di Jogjakarta, dengan masyarakatnya dan budayanya,” sambung pria berkaca mata itu.

Dalam kesempatan itu Kang Emil justru mempertanyakan budaya bersepeda masyarakat Jogjakarta. Ya, di era kepemimpinan Herry Zudianto, Jogja pernah kondang dengan istilah segosegawe yang merupakan kependekan sepeda nggo kerja lan nyambut gawe. Artinya, sepeda untuk berangkat sekolah dan kerja. “Kemana budaya bersepada itu pergi. Saya lihat kebiasaan bersepeda di Jogja makin jarang. Kalau di Bandung kami punya bike sharing, sepeda disewakan disana,” ujar Kang Emil yang berharap budaya segosegawe kembali dihidupkan.

Sangat disayangkannya Jogjakarta yang telah memiliki jalur khusus dan ruang pemberhentian bagi pesepeda di traffic light justru luntur budayanya.

“Saling belajar saja. Saya juga banyak belajar dari Jogja. Termasuk soal Art Jog, kami juga akan buat di Bandung,” cetusnya.
Dalam kesempatan yang sama HB X membeberkan resep konsep pedestrian Malioboro yang menjadi salah satu prioritas pembangunan infrastruktur strategis di DIJ. Kawasan ini nantinya juga diharapkan menjadi pendukung hadirnya New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang direncanakan bisa beroperasi pada Juni 2019. Tentunya dengan konsep humanis yang berlelanjutan.

“Pola pikir kita harus satu langkah maju ke depan atau perubahan bergerak lebih cepat dari apa yang kita pikirkan,”ujarnya.(yog/ong)