Wajib Sowan Bekti lan Nguri-uri Kabudayan

Acara syawalan di kompleks Kepatihan kemarin (20/7) menjadi momentum penting bagi abdi dalem Keraton Jogjakarta. Saat itulah mereka mendapat kesempatan bersalaman dengan raja yang sekaligus gubernur DIJ.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
Jam dinding belum menunjukan pukul 08.00. Puluhan abdi dalem keprajan Keraton Jogjakarta dan Kadipaten Pakualaman telah berkumpul di lingkungan kompleks Kepatihan.

Kursi yang tertata rapi mengelilingi Bangsal Kepatihan pun akhirnya penuh oleh sekitar 800 abdi dalem dari kabupaten dan kota se-DIJ. KMT Dwijo Sampurno, salah satunya. Abdi dalem asal Kulonprogo ini tidak mau kehilangan kesempatan bertemu langsung, sekaligus menjabat tangan Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X. Tak lekang dalam benak kakek 69 tahun itu akan pesan HB X kepada para abdi dalem agar ikut serta nguri-uri budaya.

“Ya kalau bukan kita siapa lagi. Saya pun berusaha (melestarikan budaya) dalam tata bekti anak, tata hidup sehari-hari dengan keluarga dan lingkungan sekitar,”ujarnya di sela syawalan.

Bagi Dwijo menjadi abdi dalem merupakan sebuah panggilan jiwa. Dia memutuskan menjadi abdi dalem keraton selepas pensiun dari tenaga kependidikan pada 2010. “Budaya keraton harus dilestarikan agar keistimewaannya tidak sia-sia,” sambung wakil pengirit abdi dalem Keraton Jogja ini.

Menjadi abdi dalem memang tidak harus “berdarah biru”. Abdi dalem keprajan bisa berasal dari pegawai pemerintah yang masih aktif maupun telah pensiun. Termasuk anggota TNI/Polri. Siapa pun asal mendaftarkan diri sebagai abdi dalem.

“Kewajiban mereka (abdi dalem) adalah sowan bekti. Juga menjadi contoh masyarakat dalam nguri-uri budaya di kehidupan sehari-hari,” jelas pengurus abdi dalem keprajan KPH Indro Kusumo.

Perilaku yang dimaksud misalnya dalam berbusana, bertutur kata, dan bersikap. “Mereka harus jadi perpanjangan tangan keraton,” sambungnya.

HB X sendirian hadir di tengah ratusan abdi dalem. Ketika itu Wakil Gubernur Paku alam (PA) X absen lantaran kurang enak badan. Namun, kondisi itu tak mengurangi hidmat acara syawalan.

Tak henti-hentinya HB X berpesan agar para abdi dalem bisa menjadi teladan dalam upaya pelestarian budaya Keraton Jogjakarta dan Puro Pakualaman. Abdi dalem harus bisa menularkannya kepada masyarakat. Dengan selalu memerhatikan perintah leluhur, sekaligus menyejahterakan masyarakat.

“Semua harus bersatu padu mewujudkan hal tersebut. Selain itu selalu waspada agar tidak mudah terpengaruh paham selain Pancasila,” tuturnya dalam bahasa Jawa.

Jika hal itu terwujud, lanjut HB X, Jogjakarta bisa menjadi contoh dalam upaya pelestarian budaya di Indonesia.(yog/ong)