Berangkat Haji Berkat Kambing dan Pohon Albasia

Banyak cara menuju Tanah Suci untuk berhaji. Seperti Mbah Nikem. Nenek 74 tahun itu siap berangkat haji tahun ini hanya bermodal rumput, kambing, dan pohon albasia.
Budi Agung, Purworejo
Di antara ratusan calon jamaah haji Kabupaten Purworejo, penampilan nenek satu ini sebenarnya biasa saja. Namun, melihat alas kaki yang dikenakan tentu akan membuat orang tercengang. Apalagi setelah mendengar kisahnya hingga namanya masuk dalam daftar calon haji Purworejo tahun ini.
Kuncinya, niat, sabar, dan bertawakal

Setiap kali menghadiri kegiatan mahasik nenek asal pelosok Desa Giyombong, Bruno, itu selalu mengenakan alas sandal jepit.

Demikian pula saat pamitan ke Bupati Agus Bastian di Pendapat Kabupaten Purworejo kemarin (19/7).
Berbeda dengan calon jamaah haji sepuh lainnya yang sebagian besar diantar sanak famili. Rata-rata tampil dengan pakaian rapi.

Mengenakan baju batik khas Purworejo dengan baju gamis baru. Demikian pula Mbah Nikem. Bedanya, Mbah Nikem hadir sendirian. Dia diantar tukang ojek. Di usia senjanya, dia masih tampak gesit. Membawa tas jinjing, Mbah Nikem segera melangkah menuju pendapa setelah turun dari sepeda motor ojek. Tampak tali pengait plastik masih menempel di sandal jepit biru merek Melly yang dikenakannya. Dia tak canggung berbaur dengan calon haji lain yang bersepatu maupun bersandal merek terkenal.

“Itu tukang ojek yang mengantar saya ke sini. Dan dia yang selalu mengantar saya saat ikut manasik haji,” ungkap Mbah Nikem saat disambangi Radar Jogja.

Cukup panjang perjuangan Mbah Nikem yang sejak lama bercita-cita menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Dia harus berjuang sendiri mengumpulkan rupiah dari hasil menjual pohon dan memelihara kambing.

“Saya tidak mau ngrusuhi (merepotkan, Red) suami. Karena ini niat saya, ya saya sendiri yang harus nyukupi,” tutur suami Mbah Suparsono,80.

Mbah Nikem punya prinsip, selama butuh sesuatu untuk kepentingan pribadi dia tak akan minta kepada orang lain. Sekalipun kepada suami maupun anak-anaknya. Mbah Nikem memang tak punya keturunan langsung. Semua anak kandungnya meninggal dunia saat usia mereka belum sampai satu tahun. Mbah Nikem lantas mengadopsi anak angkat. Tak tanggung-tanggung, dia memiliki empat anak angkat. Itu membuktikan kecintaannya pada anak, sekaligus mencari penerus garis keluarga.

Semua anak angkat Mbah Nikem sudah berkeluarga. “Sebenarnya saya punya tiga anak. Yang pertama meninggal saat umur 3 hari, kedua umur 11 bulan, dan terakhir 6 bulan. Saya yakini Gusti Allah tidak akan member momongan sendiri, makanya saya putuskan mengangkat anak,” katanya.

Niat berhaji pernah disampaikannya kepada seorang kiai panutannya. Satu pesan yang dipegang, segala sesuatu akan berhasil jika dilandasi niat baik. Hal itu pula yang dijalani Mbah Nikem selama ini. “Setiap kali menanam pohon albasia memang saya niatkan untuk naik haji. Beberapa tahun saya tabung dan setorkan untuk haji ini,” katanya.

Begitu juga kambing. Setiap kali merumput, Mbah Nikem selalu memanjatkan niat untuk keperluan haji. “Alhamdulillah semua ini bisa tercapai sekarang,” tambahnya.

Niatnya semakin bulat sejak mendapat pengumuman berangkat haji tahun ini.

Meski tinggal di Giyombong yang jaraknya puluhan kilometer dari pusat Kabupaten Purworejo, Mbah Nikem tak pernah absen manasik haji. Baik yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama maupun kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) yang diikutinya.

Tercatat ada 18 kali kegiatan manasik yang telah diikutinya. Setiap kali berangkat Mbah Nikem mengandalkan tukang ojek langganan yang juga tetangganya. Tiap kali manasik, dia harus merogoh kocek hingga Rp 100 ribu sebagai ongkos jasa plus makan tukang ojek.

“Kalau naik mobil angkutan umum takut terlambat. Tidak masalah habis biaya banyak, wong memang sudah diniati,” jelasnya sambil tersenyum.

Soal sandal jepit yang dikenakannya, Mbah Nikem mengaku tidak punya rasa malu atau perasaan apapun. Bahkan, dia berniat tak akan mengganti sandal jepit yang dikenakan sampai waktu pelaksanaan ibadah haji.

“Wong dari pembimbing juga katanya di Mekkah sana malah dianjurkan pakai sandal jepit. Ya dari rumah sekalian pakai sandal jepit saja,” kata Nikem yang sampai sekarang masih memelihara 10 ekor kambing ini.(yog/ong)