RADARJOGJA.CO.ID – BANTUL– Masa pengenalan lingkungan sekolah di SMKN 1 Pundong, Bantul tampak lebih istimewa dibanding sekolah lain. Kemarin (19/7) sebanyak 256 siswa baru mengenakan pakaian adat Jawa. Kebaya bagi murid perempuan dan surjan lengkap dengan belangkon bagi siswa laki-laki. Tak hanya pakaian yang bernuansa tradisional. Selama delapan jam, mulai masuk hingga pulang sekolah para siswa dikenalkan dengan aneka permainan dan lomba yang kental dengan budaya Jogja.

Sepertikreasi janur, lomba masangin, tiup terompet janur (daun pohon kelapa, Red), membatik, hingga balapan menggelindingkan cengkir (batok kelapa dengan kulitnya, Red) menggunakan sebatang kayu.

“Kegiatan ini sengaja kami gelar untuk mengenalkan kembali warisan budaya lokal yang kian terkikis,” ujar Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan Sutapa.

Dengan kegiatan tersebut, Sutapa berharap para siswa memiliki pengalaman baru untuk mengisi waktu senggang yang pada umumnya lebih banyak dihabiskan dengan bermain gawai. Permainan tradisional diyakini mampu membentuk karakter dan moral siswa. Sekaligus menjadi ajang bersosialisasi. Lebih dari itu, permainan tradisional untuk menanamkan rasa cinta budaya sendiri.

Permainan tradisional seperti itu telah dijalankan selama empat tahun terakhir di sekolah yang terletak di Desa Srihardono, Pundong, itu. “Kami menghindari perpeloncoan,” lanjutnya.

Dalam pelaksanaan lomba, para siswa telah diajari terlebih dulu tentang materinya. Pada hari pertama dan kedua masuk sekolah mereka dilatih membuat aneka kreasi berbahan janur. Mulai terompet hingga dekorasi untuk pernikahan.

Ada juga lomba masangin. Untuk kegiatan yang satu ini lapangan sekolah diseting menggunakan miniatur pohon beringin agar menyerupai Alun-Alun Selatan Jogja. Masangin merupakan kependekan dari masuk di antara dua pohon beringin. Ini menjadi semacam tradisi yang sampai saat ini mampu menarik wisatawan.

Konon pada zaman dahulu masangin adalah sebuah ritual agar cita-cita seseorang dikabulkan oleh Tuhan. Dalam menjalani ritual tersebut, tiap orang wajib menutup kedua mata, lalu berjalan lurus di antara dua pohon beringin yang berdiri di tengah alun-alun. Ada kepercayaan, siapapun yang mampu melewatinya (tidak berbelok/bergeser ke kanan atau kiri), maka keinginannya bakal terwujud.

Sementara untuk kegiatan membatik, para siswa dilatih menggunakan canting dan menorehkan lilin pada selembar kertas. Bukan hanya motif batik, mereka diminta menuliskan pesan moral bagi masyarakat.

Sebagaimana umumnya masa pengenalan lingkungan sekolah, para siswa juga mendapat tugas tertentu. Dengan cukup membawa bekal makanan kaya gizi dari rumah. Misalnya, sayur kangkung atau sawi dengan lauk tempe dan tahu, serta buah-buahan.

“Ini bentuk dukungan kami terhadap gerakan masyarakat sehat yang dimulai dengan mengonsumsi makanan bergizi,” kata Sutapa. (ita/yog/ong)