RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN– Pernah mengenyam pendidikan di Jogjakarta mendorong Anies Baswedan bernostalgia. Gubernur terpilih DKI Jakarta itu menyempatkan diri “belajar” dari tokoh-tokoh pemerintahan di DIJ. Pada Rabu (18/7) malam Anies menyambangi Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X untuk menimba ilmu tata kelola pemerintahan di daerah istimewa. Kemarin (19/7) pagi Anies bertolak ke bantaran Sungai Winongo. Di tempat itu, bekas rektor Universitas Paramadina Jakarta itu ingin mengetahui seluk-beluk penataan lahan sempadan sungai yang dilakukan tanpa menggusur warga yang menghuni di atasnya.

Menyusuri bantaran Winongo, Anies dengan seksama mendengar penjelasan Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) Endang Rohijani. Bahkan, saat itu Anies sempat meminta polisi yang berjalan di belakangnya untuk mengecilkan volume suara handy talky karena mengganggu perbincangannya dengan Endang. Sekitar setengah jam Anies mendengar penjelasan Endang dan menikmati wedang serai di RW 1 Ngampilan.

“Ini saya ajak komunitas dari Jakarta supaya mereka juga belajar penataan Sungai Winongo yang sudah dimulai sejak 2009,” katanya.

Kehadiran Anies ke Winongo bukan tanpa alasan. Dia ingin mencontoh konsep mundur, munggah, madhep kali (M3K) yang merupakan ide HB X. Maksudnya, warga yang selama ini menghuni kawasan bantaran sungai diminta menjauhi bibir sungai ke area yang lebih tinggi dan membangun rumah menghadap sungai.

Menurut Anies, konsep serupa telah diterapkan di Kampung Tongkol, Jakarta. “Kalau pakai bahasa Jawa enaknya mundur, munggah, madhep kali. Kalau bahasa Indonesia mundur, naik, menghadap sungai agak kurang enak,” canda bekas menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI itu.

Selain konsep, Anies tertarik dengan semangat penataan bantaran Winongo dengan mengedepankan gotong royong, yang melibatkan warga setempat. Hal itu pula yang dikedepankannya saat kampanye pemilihan gubernur Jakarta beberapa waktu lalu. Anies bertekat menata kawasan tanpa penggusuran, sekaligus mengubag paradigma masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. “Supaya mereka mau mengubah halaman depan rumah ke arah sungai,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Endang memaparkan, proyek penataan Winongo bukanlah pekerjaan instan. Hal terpenting adalah membangun kesadaran masyarakat. “Dengan kesadaran tersebut, maka program penatan sungai akan berhasil dijalankan. Yang perlu diyakinkan kepada warga bukanlah penggusuran, tapi penataan,” katanya.(pra/yog/ong)