RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Puluhan siswa SD dan SMP Bhineka Tunggal Ika (BTI) masih harus mengungsi ke Dalem Notoprajan di hari kedua masuk sekolah tahun ajaran 2017/2018 kemarin (18/7). Itu lantaran konflik internal antara guru dan pengurus Yayasan BTI belum menemui titik temu.

Para guru meyakini, keterbatasan sarana dan prasarana kegiatan belajar dan mengajar (KBM) tidak mengganggu aktivitas siswa.
“Berjalan seperti biasa. Apalagi sekarang kan masih summer school,” ujarKepala SMP BTI Theresia Nariza.

Meski tanpa meja dan kursi serta harus duduk lesehan di pendapa, Riza, sapaan akrabnya, mengklaim tidak masalah. “Belajar tidak harus di dalam kelas dan mendengar penjelasan guru. Lingkungan yang ada di sekitar juga bisa dijadikan media,” tambahnya.

Menurut Riza, pembelajaran luar kelas bisa dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar kita.
Seperti di sekitar Dalem Notoprajan, lanjut Riza, ada pohon atau kendaraan yang bisa digunakan sebagai media pembelajaran siswa. “Untuk IPA kan bisa melihat jenis-jenis pohon atau menghitung roda mobil dikalikan jumlah mobil. Itu sudah jadi pembelajaran matematika,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu Riza menepis tudingan salah seorang pengurus Yayasan BTI yang menyatakan KBM di Dalem Notoprajan sebagai kegiatan illegal. Dia pun menyampaikan hal tersebut kepada Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja Budi Santosa Asrori bersama pengawas sekolah yang mendatangi Dalem Notoprajan kemarin. “Disdik juga kaget dikatakan kegiatan kami ilegal,” ungkapnya.

KBM di salah satu bangunan milik Keraton Jogja tersebut diagendakan hingga Jumat (21/7). Selanjutnya, para siswa bisa kembali ke SD dan SMP BTI di Jalan Kranggan, Kota Jogja.

Riza berharap konflik internal Yayasan BTI segera terselesaikan. Selain siswa yang menjadi korban, menurut Riza, konflik tersebut mengakibatkan minimnya peserta didik baru. Pada proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini hanya ada dua siswa baru untuk SD. Sementara siswa baru SMP nihil. “Sempat ada yang satu yang mendaftar di SMP. Tapi karena tahu ada konflik akhirnya tidak jadi masuk,” bebernya. Jumlah siswa baru tersebut jauh dibanding PPDB tahun lalu. Ketika itu ada 21 siswa SMP, sedangkan untuk SD diisi 37 murid.

Sementara itu, usai memantau KBM di Dalem Notoprajan Budi Santosa berharap segera ada win-win solution untuk mengakhiri konflik internal Yayasan BTI. “Supaya anak-anak tak terlalu lama belajar di luar sekolah. Mereka harus segera kembali ke tempat semula agar tak mengalami kesulitan belajar,” tuturnya.

Menyikapi konflik tersebut, dinas pendidikan telah melakukan dialog dengan pengurus yayasan dan dewan guru BTI untuk memetakan permasalahan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Chandra, salah seorang pengurus Yayasan BTI, menuding KBM di Dalem Notoprajan sebagai kegiatan illegal karena tanpa izin yayasan. Dia menyayangkan sikap guru yang mengambil langkah sepihak untuk menyikapi persoalan yang dihadapi bersama pengurus yayasan. “Kenapa (siswa) harus belajar di luar sekolah. Nyatanya untuk siswa SMA tetap berjalan di sekolah,” katanya.(pra/yog/ong)