Sedih Mendengar Jawaban, “Maaf Tidak Bisa karena Sudah Penuh”

Maraknya pendirian toko modern di wilayah DIJ ternyata tak diimbangi dengan upaya pemasaran produk lokal. Banyak produk makanan khas ditolak masuk minimarket. Sekalipun makanan tersebut hasil olahan usaha kecil mikro (UKM) binaan pemerintah.
GUNAWAN, Gunungkidul
JARUM jam menunjuk pukul 14.00. Kemarin (18/7), seorang perempuan muda tampak kesulitan memarkir sepeda motornya di depan salah satu toko modern di wilayah Patuk, Gunungkidul. Barang bawaanya menumpuk tinggi, nyaris tak terlihat di bagian tengah kendaraan ternyata ada seoarang anak yang terhimpit tumpukan kardus yang sarat muatan. Itulah yang membuat mimik wajah bocah bernama Aisma Rani selalu cemberut. Wajah Aisma mulai semringah ketika sang ibu, Santi Yumaroh, “membebaskannya” dari jepitan kardus.

Barang yang mereka bawa memang cukup banyak. Bahkan, bisa dibilang melebihi kapasitas untuk ukuran sepeda motor. Itulah hari-hari yang harus dijalani Santi demi mengais rezeki.

Setiap hari, Santi membuat produk camilan untuk dipasarkan di beberapa toko oleh-oleh. Seperti ceriping pisang, tempe keripik, hingga keripik singkong aneka rasa.

Bermodal izin Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) yang diterbitkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul, istri Edy Hartono itu melangkah dengan percaya diri setiap kali memasuki toko yang akan ditawari produk olahannya. Santi Yumaroh selalu pasang muka tebal saat menawarkan produknya ke toko modern.

Memang tak mudah menembus pasar modern. Meskipun Santi termasuk salah satu pelaku UKM binaan pemerintah. Setiap hari keliling di banyak toko belum tentu semua mau menerima produk buatannya. Meskipun dagangan yang ditawarkan bersifat titipan. Artinya, pemilik toko tidak akan rugi meskipun produk tidak laku. “Dagangan sering ditolak dengan cara halus. Dijawab, maaf sudah penuh. Kalau sudah begitu mau bagaimana lagi. Mungkin memang sudah benar-benar penuh,” keluhnya.
Seolah tak cukup bagi Santi hanya bermodal citarasa makanan yang gurih dan renyah. Izin P-IRT yang menjadi “senjata”-nya setiap menawarkan dagangan ke toko-toko pun tak sepenuhnya ampuh.

Jika sudah begitu, sering kali Santi harus ekstra sabar ketika anak keduanya yang selalu diajak berkeliling menawarkan dagangan mulai mengeluh. “Tiap hari anak saya mengeluh. Apa bisa jajan kalau dagangan ditolak terus,” ucapnya menirukan suara Aisma Rani.

Pernah suatu hari sebelum bulan puasa Santi keliling Gunungkidul menyambangi sepuluh toko modern. Ternyata hanya empat lokasi yang meresponsnya.

Kondisi itulah yang kerap membuat ibu dua anak itu berkecil hati. Bagaimana tidak, produk olahannya telah mendapat label resmi dari pemerintah setempat. Izin juga lengkap. Itu berarti setiap jajanan yang diproduksinya dijamin kesehatan dan kebersihannya.

Namun, bukan Santi kalau lantas mudah patah semangat. Terbukti, perjuangannya yang dirintis sejak 2007 masih jalan sampai sekarang. Rumahnya juga terus berproduksi.
Rata-rata dia kirim barang dua minggu sekali ke para pelanggan.

Perempuan yang hanya memiliki ijazah SMP itu memang selalu ingin mandiri. Santi tak mau berpangku tangan menunggu jatah dari suaminya yang bekerja sebagai wiraswasta. “Saya bergabung dengan ASPEMAKO (AsosiasiPengolahan Makanan Olahan) binaan Diseperindag Gunungkidul,” tutur pengusaha kecil yang menjadi korban gempa bumi 2006 itu.

Menekuni usaha membuat ceriping dan keripik juga bukan hal mudah. Santi harus menjalani berbagai kegiatan pelatihan. Mulai kegiatan yang diadakan oleh Disperindag DIJ, yang dilanjutkan pelatihan di Pemkab Gunungkidul selama dua hari. Itupun belum cukup. Bersama anggota ASPEMAKO lainnya Santi masih harus menjalani serangkaian tes tentang makanan berbahaya. Setelah dinyatakan lulus, barulah dia mulai berproduksi. Sampai tahapan itu masih ada prosedur yang harus dipenuhi. Sebelum mendapatkan nomor izin P-IRT, produk olahan olahannya dites dulu oleh petugas dinas kesehatan setempat hingga dinyatakan lolos sesuai kriteria. Lokasi produksi juga disurvei oleh petugas. “Selama seminggu saya mendapatkan nomor izin P-IRT,” ungkapnya.

Santi berharap, ke depan pengelola toko modern membuka peluang lebih lebar untuk menampung produk UKM. Seperti di daerah lain di DIJ, Santi menaruh harapan besar kepada Pemkab Bantul turut campur tangan membantu pemasaran produk lokal untuk menembus toko modern.(yog/ong)