Selanjutnya Bangun Kesadaran Tidak Merokok di Tribun

Sepak bola sudah mulai menjadi tontonan keluarga. Tidak hanya monopoli kaum Adam atau anak muda. Namun dari kakek-nenek sampai anak-anak, juga bisa menikmati. Stadion bahkan bisa menjadi arena bermain bagi bocah-bocah cilik ini.
RIZAL SN, Sleman
Setiap partai PSS Sleman, stadion selalu dipenuhi oleh Sleman Fans. Baik itu pertandingan resmi maupun uji coba. Anak-anak dengan jersey tim, syal, dan bersepatu hilir mudik di depan tribun. Bahkan kadang ikut berteriak di sela pagar pembatas tribun dengan lapangan. Stadion mulai jadi arena bermain dan pertandingan sepak bola menjadi hiburan dan alternatif wisata.

Berangkat dari hal itu, mulai awal musim ini manajemen PSS kembali menerapkan tiket khusus anak kepada penonton. Di setiap tribun disediakan kuota dengan harga separuh dari tiket dewasa. Hal ini disambut baik oleh Jevry Rupiasi Manaha, 39. Salah satu dari generasi Sleman Fans yang mendukung PSS sejak masih bujangan hingga kini telah mempunyai dua anak.

“Tiket khusus anak secara langsung memberikan edukasi sejak dini bagaimana anak-anak belajar men-support team kebanggaan mereka. Cara yang terbilang sederhana tetapi bisa memberikan efek positif bagi perkembagan sepak bola industri,” ujarnya kepada Radar Jogja kemarin (16/7).

Menurutnya, jika anak mulai tertib sejak dini dan didukung pihak pengelola stadion, tentunya harapan melihat stadion ramah anak bisa terwujud. Stadion juga mulai nyaman untuk semua kalangan.

Pria yang kini berdomisili di Perum GMA Banguntapan, Bantul, itu mengatakan, penonton semakin berbondong-bondong melihat langsung ke stadion karena ada rasa aman. Di sisi lain, tiket akan habis terjual dan klub semakin sehat dalam keuangan. “Itulah kualitas tim dan kompetisi yang bisa dirasakan jika sudah menjadi industry,” tambahnya.

Sejak menjadi fans PSS di tahun 1997 seiring ia berpindah dari NTT ke DIJ karena kuliah, ia menilai belum ada tim yang menerapkan tiket khusus anak. Karena itu bisa dibilang PSS yang kali pertama memberlakukan. PSS sebenarnya pernah mencoba menerapkan empat atau empat tahun lalu. Tapi tidak berjalan karena media publikasi yang terbatas.

“Sekarang banyak media yang membantu kampaye ini. Sebenarnya bukan hanya saya saja, tetapi usulan generasi Sleman Fans yang mendukung sejak bujangan dan sekarang sudah sama-sama punya anak,” ungkap ayah dari Jendry Pratama J. Manaha dan Jeslyn Novita D. Manaha itu.

Meskipun secara angka, nilai tiket anak tidak signifikan tetapi kampaye tersebut bisa menggerakkan satu keluarga bersama-sama ke stadion. Secara psikologis dengan kehadiran anak-anak ikut membantu kondusifitas di dalam dan luar stadion.
Karena orang dewasa akan malu, jika hal yang tidak patut dicontoh anak-anak diumbar di depan umum. Penonton bisa jadi teladan dan panutan bagi yang muda. Menurutnya, itu masih menjadi budaya lokal yang terus dijaga.

Selanjutnya, setelah tiket anak kembali berjalan, edukasi kemudian adalah bagaimana penonton dewasa saat di tribun bisa menghormati ibu atau perempuan dan anak-anak di sebelahnya dengan tidak merokok. Yaitu membangun kesadaran bagi perokok agar bisa menyesuaikan ketika di sebelahnya ada anak-anak dan perempuan. “Suporter tetap menjaga ketertiban di dalam dan di luar stadion. Sehingga bisa menjadi tempat yang nyaman bagi semuanya,” terang suami Wiwin Lestiana itu.
Ketua Panpel PSS Jaguar Tominangi mengatakan, tiket anak diberlakukan bagi penonton yang berusia di bawah 12 tahun.

Sebelum ada tiket anak, penonton anak-anak sebagian membeli tiket dewasa, sebagainya belum membeli tiket. Sejauh ini hasil penjualan tiket anak memang tidak terlalu banyak. Berkisar antara 200-600 lebar dari beberapa pertandingan terakhir.

“Terpenting tujuannya adalah menanamkan sejak dini ke anak-anak untuk membeli tiket. Agar mereka bisa memiliki rasa handarbeni kepada klub atau tim,” beber pria yang biasa disapa Jenggo itu. (riz/laz/ong)