RADARJOGJA.CO.ID – Bisa jadi, diantara masyarakat masih ada yang belum tahu bahwa setiap penumpang angkutan umum kapal penyebrangan laut dijamin oleh PT Jasa Raharja. Ya, jaminan itu diberikan sebagai bentuk perlindungan kepada para penumpang bila suatu ketika kapal yang mereka tumpangi mengalami musibah kecelakaan. Jaminan kecelakaan sebagai bentuk kepedulian dan tanggungjawab pemerintah kepada masyarakat yang menggunakan jasa penyebrangan kapal laut.

“Premi asuransi penumpang angkutan laut ditarik bersamaan dengan pembelian tiket,” kata Humas PT Jasa Raharja DIJ, Wahyu Agung SE MM kepada siswa baru SMK Kesehatan Binatama, Sleman, Senin (17/7).

Menurut Wahyu, ada perbedaan nilai santunan bagi penumpang kapal laut yang ketika hendak menyebrang menggunakan kendaraan pribadi dengan angkutan umum bis. Khusus untuk penumpang kapal laut yang sekaligus penumpang angkutan umum bis, santunan yang akan diterima nilainya dua kali lipat.

“Pemberian santunan itu double karena mereka membayar preminya juga dua kali. Saat akan naik bis bayar premi dan ketika akan naik kapal laut juga bayar premi lagi. Sehingga, santunan yang akan diterima pun double,” beber Wahyu.

Berapa nilai santunan kecelakaan? Wahyu menerangkan, untuk santunan biaya perawatan luka-luka korban kecelakaan yang terjadi di darat dan laut, nilai santunan maksimal sebesar Rp 20 juta, santunan korban cacat tetap maksimal Rp 50 juta, dan santunan korban yang meninggal dunia sebesar Rp 50 juta.

Sedangkan santunan biaya perawatan korban luka-luka kecelakaan angkutan udara nilai santunan maksimal sebesar Rp 25 juta, santunan cacat tetap korban kecelakaan udara maksimal Rp 50 juta, dan santunan korban meninggal dunia angkutan udara sebesar Rp 50 juta. Selain itu, kini ada biaya pengganti P3K yaitu maksimal Rp 1 juta dan biaya pengganti ambulan maksimal Rp 500 ribu.

“Kenaikan santunan dan biaya pengganti P3K dan ambulan mulai berlaku Per 1 Juni 2017 lalu,” terang Wahyu.

Sementara itu, Kanit Satpras Dikyasa Ditlantas Polda DIJ AKP Slamet Subiyantoro mengimbau kepada para pelajar yang belum memunyai Surat Ijin Mengemudi (SIM) agar tak mengemudikan sepeda motor/mobil sendiri ketika berangkat dan pulang sekolah. Jika nekad mengemudikan sepeda motor sendiri maka dapat membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain.

“Kalau ke sekolah dan bepergian mintalah diantar orang tua atau keluarga lainnya. Jika keluarga tidak ada yang bisa mengantar, naik ojek saja,” kata Slamet.

Bagi yang sudah memunyai SIM, Slamet meminta jangan lupa membawanya ketika bepergian. Tak kalah pentingnya, para pengemudi dan penumpang sepeda motor juga diwajibkan mengenakan helm dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

“Jangan sekali-kali nerobos lampu merah, ngebut, dan melanggar marka. Perhatikan situasi lalu lintas dan jaga jarak dengan kendaraan yang ada di depan, samping, dan belakang,” pinta Slamet.

Dalam kesempatan itu, PT Jasa Raharja dan Ditlantas Polda DIJ memberikan doorprize berupa helm kepada siswa yang dapat menjawab pertanyaan dari pemateri.(mar)