RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Peredaran narkoba di Indonesia patut diwaspadai semua elemen masyarakat. Terlebih, para bandar dengan berbagai cara mencoba mengedarkannya. Termasuk menyasar kalangan pelajar di Jogjakarta. Bahkan, para gembong narkoba tak pernah berhenti membuat aneka jenis narkoba baru untuk mengelabui aparat.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIJ Mardi Rukmianto mengungkapkan, ada sekitar 855 jenis narkoba, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) di dunia. Namun hanya 43 jenis di antaranya yang telah tersentuh produk hukum di Indonesia.

Warga Indonesia umumnya hanya mengenal ganja, sabu, heroin, pil extacy, hingga putaw. Atau yang terbaru berupa tembakau gorilla. Padahal, masih banyak jenis lain yang memang tak begitu lazim. Seperti 5-FLUORO AKB 48, MAM 2201, 4APB, BZP, MCPP, TFMPP, Methoxethamin, Ethylone, AB-CHMINACA, AB-FUBINACA, AB-PINACA, FUB-AMB, dan CB-13.

Beberapa di antaranya merupakan jenis turunan dari cannabinoid yang merupakan zat dalam ganja. Efeknya membuat pemakainya berhalusinasi.

“Saat ini laboratorium nasional terus berusaha mendeteksi unsur jenis narkoba baru. Karena jenis baru yang belum terdeteksi tidak bisa dijerat undang-undang,” ungkap Mardi di sela Hari Peringatan Anti Narkotika Internasional di Gedung Serba Guna, Denggung Sleman, kemarin (13/7).

Mardi mengakui, peredaran narkoba di Indonesia kian masif. Tertangkapnya seorang pengedar tidak membuat jera bandar lainnya. Bahkan, para pengedar barang haram itu selalu menemukan cara baru untuk menjualnya ke konsumen. Ironisnya, peredaran narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan pun terus terjadi.

Karena itu Mardi mendorong pemerintah bergerak cepat menyusun aturan untuk narkoba jenis baru. Juga melengkapi fasilitas laboratorium pendeteksi dini NAPZA.

“Kadang-kadang sudah terdeteksi tapi belum tercantum dalam undang-undang, sehingga tidak bisa dijerat hukum,” katanya.

Dikatakan, narkoba jenis baru memang belum banyak beredar di Indonesia. Namun, peredaran NAPZA kian merajalela.
Jogjakarta termasuk daerah dengan angka pengguna yang tinggi. Mencapai 60.182 orang. Atau 2,27 persen dari total penduduk Indonesia. Dengan jumlah ini, Jogjakarta menduduki peringkat delapan pengguna narkoba tertinggi.

“Dulu sempat masuk lima besar. Dari puluhan ribu pengguna, 594 di antaranya tertangkap. Sementara yang direhabilitasi sekitar 1.088 orang,” jelasnya.

Mardi menegaskan, adanya tindakan assessment berupa rehabilitasi bukan berarti pengguna narkoba bebas dari pengawasan. Pelaku rehabilitasi tetap bakal berhubungan dengan jeruji besi jika ketahuan lagi mengonsumsi narkoba.”Bukan berarti tidak bisa disentuh oleh hukum. Jika masing mengulang tentu harus ditindak secara tegas. Tidak ada pengecualian,” tegasnya. (dwi/yog/ong)