RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Tiga anggota mahasiswa pecinta alam (Mapala) UPN Veteran Jogjakarta menyelimuti puncak Monumen Jogja Kembali (Monjali) dengan bendera merah putih berukuran 20 x 12 meter persegi. Mereka adalah Agung Cahyono, Stefanus Febi Nugroho dan Muhammad Mauludin.

Aksi mereka dalam rangka memeringati 68 tahun berdirinya bangunan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Koordinator Mapala UPN Veteran Zaeni Mansyur mengungkapkan, aksi tersebut sebagai wujud penghargaan kepada para pahlawan. Sekaligus upaya mengajak generasi muda berkunjung ke bangunan yang sekaligus menjadi museum itu. Monjali menyimpan beragam artefak dan dokumentasi zaman perang kemerdekaan.

“Monjali ini merupakan rangkuman sejarah para pejuang dimasa lalu. Seluruh kisah, cerita para pejuang terdapat di museum ini dan wajib kita hayati dan terapkan. Tentunya dengan semangat anak muda yang dinamis dan cinta NKRI,” ungkap Zaeni kemarin (6/7).

Dibutuhkan keahlian khusus untuk memanjat puncak bangunan berbentuk kerucut setinggi 31,8 meter itu. Kain merah putih dikaitkan di tiga sisi bangunan. Meski cukup berpengalaman, pemasangan bendera merah putih raksasa di badan kubah itu menjadi tantangan tersendiri bagi ketiga pemanjat.

Mereka harus melawan angin saat mengikuti kontur monument sesuai derajat kemiringannya.

“Terpaan anginya cukup besar, sehingga perlu teknik khusus agar bendera tidak rusak. Bendera dipasang selama 24 jam hingga besok (hari ini). Ada tim yang stand by 24 jam untuk mengawasi,” ujarnya.

Kabag Umum Monjali Yudi Pranowo mengungkapkan, penyelimutan kubah Monjali dengan bendera merah putih telah menjadi agenda rutin tahunan. Mapala UPN Veteran pula yang selalu dilibatkan untuk mengibarkan bendera raksasa tersebut.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi kami mengenalkan sejarah Monjali,” katanya.

Yudi mengakui, aksi tersebut tak lantas berbanding lurus dengan tingkat kunjungan museum. Hanya, dibanding tahun sebelumnya tercatat ada peningkatan. Pada libur Lebaran lalu, misalnya. Hingga H+10 tercatat 15 ribu pengunjung yang didominasi wisatawan keluarga.

Dijelaskan, isi museum merangkum semua pristiwa perang kemerdekaan pada medio 1945 hingga 1949.

“Sejarah ini sangatlah penting sebagai pengetahuan generasi muda. Menjadi harta bangsa yang tidak boleh dilupakan, untuk mengenang perjuangan para pahlawan mempertahankan kemerdekaan 1945,” papar Yudi. (dwi/yog/ong)