RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Sebagai seorang guru, ulah Poniman,54, sungguh jauh dari khitahnya sebagai pendidik. Apalagi, dia tercatat sebagai salah seorang guru di madrasah tsanawiyah (MTs). Sekolah yang notabene kuat dalam pendidikan moral dan agama.

Nama Poniman telah mencoreng dunia pendidikan di Jogjakarta karena diduga telah menggauli A,15, yang tak lain muridnya sendiri hingga hamil. Kemarin (6/7) orang tua A mengadukan kasus tersebut ke kantor Jogja Police Watch (JPW) Jogja karena laporan ke Polres Bantul sejak dua pekan lalu tak kunjung ada kejelasan pengusutannya.

Wina Ratmini,33, ibu A, mengaku kesal dengan lambannya proses hukum di Polres Bantul. Wina datang ke kantor JPW di Karangjati Wetan, Sinduadi, Mlati, Sleman ditemani A yang perutnya tampak membuncit. Siswa kelas IX itu tengah hamil enam bulan.

“Kami minta pengawalan agar kasus ini segera diusut dan pelaku mendapat hukuman yang seberatnya,” kata Wina sambil menunjukkan surat laporan polisi bernomor: STTLP/132/VI/2017/SPKT, tertanggal 20 Juni 2017.

Dikatakan, sudah hampir tiga tahun Poniman kenal dengan A di MTs Giriloyo, Bantul. Saat korban duduk di kelas VII, Poniman menjabat sebagai guru bimbingan konseling (BK). Perkenalan Poniman dan A kian akrab setelah korban kerap melakukan konsultasi. Terlebih ketika A naik ke kelas VIII, Poniman menjadi wali kelasnya.

Warga Manding, Sabdodadi, Bantul yang kini mengajar di MTs Wonokromo itu mulai berani menunjukkan perangai mesumnya saat korban duduk di kelas IX.

Dari penuturan Wina, anaknya kerap curhat masalah keluarga terhadap terlapor. Awalnya curhat A kepada Poniman dilakukan di sekolah atau lewat sambungan telpon seluler. Merasa ada kenyamanan dalam komunikasi, A pun lantas sering diajak ke rumah kosong milik Poniman yang ada di Sumberagung, Jetis, Bantul. “Anak saya dibujuk ke rumah itu. Ternyata saat di tempat itu anak saya digauli,” bebernya.

Menurut Wina, terlapor sudah hampir sepuluh kali mengajak anaknya ke rumah tersebut. Lama-lama Wina pun curiga. Apalagi setelah melihat adanya perubahan perut A yang kian membesar.

Hubungan rahasia Poniman dan A terkuak setelah Wina menyita telepon seluler putrinya pada 18 Juni, dan membaca pesan-pesan singkat di dalamnya. Dari pesan SMS itulah Wina mengetahui jika putrinya mengandung. Kepastian A telah hamil diperkuat dengan hasil positif tespek yang dilakukan Wina.
Melalui SMS pula Poniman mengancam korban agar tidak melaporkan kejadian itu ke orang lain.

” Ojo ngasi ngerti wong, positif wae karo sek tak omongke wingi, nek ra aku trimo mati mbangane jeneng sekolahan dadi elek(jangan sampai tahu orang lain, positif saja dengan yang aku beritahu kemarin, kalau tidak aku mending mati daripada nama sekolah jadi jelek, Red),” kata Wina menyitir kalimat dalam SMS yang ada di handphone A.

Masih melalui pesan SMS, terlapor berjanji akan bertanggung jawab menikahi A secara siri. Namun, janji-jani tersebut hingga sekarang urung terlaksana.

“Awalnya dia berbohong ingin menikahi karena anak saya dinikahi murid yang bernama Rio. Ternyata nama Rio ini hanya akal-akalan,” jelasnya.

Merespons aduan Wina, Kepala Divisi Humas JPW Jogja Baharudin Kamba berjanji mengawal kasus tersebut hingga putusan inkrah di pengadilan.

Udin, sapaan akrabnya, menilai, terlapor telah menyalahi hukum perlindungan anak. “Menyetubuhi anak di bawah umur tanpa status jelas-jelas sebuah pelanggaran,” tegasnya.

Udin juga menyayangkan sikap penyidik Polres Bantul yang terkesan menunda-nunda penyelidikan. “Seharusnya aparat bisa segera menetapkan status terlapor,” lanjutnya.(bhn/yog/ong)