RADARJOGJA.CO.ID – BANTUL – Pantai Parangtritis ternyata tidak hanya berkontribusi pada tingginya angka kunjungan wisatawan selama libur Lebaran bagi Pemkab Bantul. Oobjek wisata (obwis) yang lekat dengan mitos Nyi Roro Kidul ini juga menyumbang puluhan ton tumpukan sampah.

Kepala UPT Kebersihan Pertamanan dan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Widjaja Tunggali menyebut, tak kurang 50 ton sampah selama libur Lebaran. Sebagian besar berupa bungkus sisa makanan wisatawan. Puluhan ton sampah itu diangkut petugas DLH dan dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan kemarin (5/7).
“Kami sampai kerahkan 14 dump truck untuk mengangkut,” ungkap Widjaja di Kompleks Parasamya.

Dikatakan, banyaknya sampah ini tidak hanya berasal dari wisatawan. Menurutnya, ada beberapa sumber sampah di kawasan Pantai Parangtritis. Di antaranya, sisa rumah tangga penduduk setempat, sampah laut, dan sungai. Tumpukan sampah ini dikumpulkan masyarakat setempat di kawasan Mancingan.

“Jenisnya pun bervariasi. Mulai plastik sampai ranting pepohonan,” ucapnya.

Selain di kawasan Pantai Parangtritis, Widjaja menengarai seluruh obwis pantai lain juga mengalami hal serupa. Kendati demikian, volume sampah dari Pengklik Pantai Samas hingga Pantai Baru Pandansimo tak sebanyak di Parangtritis. “Paling banyak hanya separonya,” katanya.

Widjaja mencontohkan sampah di Goa Cemara. Ada sekitar 25 ton. Hanya,tumpukan sampah ini hingga sekarang belum tertangani. Masih menumpuk di sekitar kawasan obwis. Widjaja mengungkapkan, penanganan sampah sebenarnya domain seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Sesuai dengan wilayah kewenangan masing-masing. DLH hanya sebatas fokus pada manajerial penanganan.

Agar sampah di seluruh obwis ini segera tertangani, DLH bakal berkoordinasi dengan OPD terkait.”Kalau di jalan berarti wilayah dinas pekerjaan umum dan perumahan dan kawasan permukiman. Kalau di obwis ya dinas pariwisata,” ungkapnya.

Terpisah, anggota Komisi B DPRD Bantul Suradal meminta masyarakat di sekitar obwis ikut peduli dengan penanganan sampah di sekitar mereka. Toh, tingginya kunjungan wisatawan tidak hanya berdampak pada pendapatan asli daerah. Lebih dari itu, juga berimbas pada perekonomian masyarakat.

“Banyak warga yang berjualan di sekitar obwis,” ujarnya.

Kendati begitu, politikus PKB asal Kretek ini meminta seluruh OPD sadar akan kewenangan masing-masing perihal sampah.Termasuk menyediakan sarana dan prasarananya. Misalnya, tong sampah hingga depo sementara.
“Kalau ada tempat sampah di titik-titik berkumpulnya wisatawan tentu tidak akan mengganggu kenyamanan,” ucapnya.(zam/ong)