RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN– Delapan orang pemuda harus berlebaran di balik jeruji besi. Mereka ditangkap akibat bermain petasan saat malam perayaan Idul Fitri. Atas keisengan yang membahayakan keselamatan orang tersebut, mereka terancam jerat Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.

Ke delapan orang berbagai usia ini ditangkap di sejumlah lokasi di wilayah Sleman. Dari tangan mereka, aparat menyita ratusan petasan berbagai ukuran.

“Seluruhnya, tertangkap tangan saat sedang bermain petasan,” kata Kapolres Sleman AKBP Burkan Rudy Satria sembari menunjukkan petasan berukuran betis orang dewasa kemarin (5/7).

Dijelaskan, pengakapan delapan orang tersebut berawal dari keresahan warga. Selanjutnya, aparat menindaklanjuti dengan menggelar operasi guna mengantisipasi adanya korban akibat dari petasan.

Benar saja, dari tangan para pelaku ini didapati petasan dengan ukuran yang cukup bervariasi. Bahkan terdapat petasan dengan diameter 22 sentimeter atau hampir sama dengan ukuran betis orang dewasa. Bila dinyalakan, petasan tersebut memiliki suara tak kalah keras dengan bom yang meledak.

“Ini bukan bom, tapi unsurnya bahan peledak. Suaranya pun tak jauh beda bila meledak,” ujar Kapolres geram.

Seperti di tempat kejadian perkara (TKP) di kawasan Stadion Maguwoharjo, Ngemplak, Sleman. Dari tangan YA, 32, dan TWH, 30, polisi mengamankan puluhan petasan dengan berbagai ukuran. Di sana, polisi menyita lima buah petasan sosdor dengan panjang setengah meter lebih serta tiga buah petasan dengan diameter sembilan sentimeter dan tinggi 22 sentimeter.

Sedangkan di TKP Lapangan Denggung, Tridadi, Sleman polisi menangkap empat orang yakni DFA, 21; EK, 22; FME, 23; dan DPW, 22. Mereka kedapatan membunyikan petasan di kawasan lapangan yang cukup dekat dengan kompleks perkantoran Pemkab Sleman.

Di lokasi lain, Margorejo, Tempel polisi menangkap TDS, 24. Kemudian di Tlogodadi, Mlati aparat menangkap BK, 26. “Modusnya membunyikan petasan karena iseng dan untuk bersenang-senang,” jelasnya.
Dijelaskan, petasan-petasan tersebut, sebagian besar didapat dengan cara dipesan. Namun ada beberapa yang membuat petasan tersebut sendiri.

Sementara itu penerapan saksi hukuman berdasarkan aturan yang sudah berumur hampir 66 tahun tersebut dilakukan agar para pelaku dan warga lain jera. Ditegaskan, pihaknya mengambil langkah hukum bagi warga yang kedapatan membunyikan petasan tanpa ada prosedur dan izin.

“Ini investasi agar tahun depan tidak ada lagi yang bermain petasan,” jelasnya. (bhn/ila/ong)