RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA– Karate bukan lagi sekedar olahraga beladiri bagi Irwansyah Ginting. Sejak memutuskan untuk total menggeluti karate, laki-laki yang akrab disapa Ginting ini pun tak pernah melewatkan satu haripun untuk melatih dari satu dojo (tempat latihan) ke dojo yang lain. Harapannya tentu saja, bisa mencetak bibit-bibit karateka yang dapat mengharumkan nama Jogjakarta dan juga tanah air tercinta.

Dari kediamannya di daerah selatan Jogja, tepatnya di daerah Banguntapan, Bantul, Irwansyah Ginting melaju ke dojo dengan tekad yang tidak pernah berubah, yakni melatih, memberi inspirasi dan semangat, agar anak-anak asuhnya menanamkan semangat juang untuk menjadi juara pada dirinya masing-masing.

Olahraga beladiri ini buka satu atau dua tahun ini digeluti pria kelahiran, Brastagi 25 September 1965 ini. Jauh sebelum dirinya hijrah ke Jogja untuk menimba ilmu, Ginting sudah mengenal karate. Sekitar tahun 1978, dirinya mulai masuk menjadi anggota sebuah perguruan karate di Brastagi, Sumatera Utara. Tapi saat itu, karate bukan satu-satunya olahraga yang digeluti, tapi ada sepakbola yang juga memikat dirinya untuk bisa berprestasi.”Tahun 1985 pindah ke Jogja itu juga masih mendua, baru di tahun 1990 saya berbalik arah 360 derajat, yang tadinya menomorduakan karate, justru lebih fokus ke situ,”ujarnya.

Alasannya memang masuk akal, saat itu sepakbola memang masih jauh lebih memberikan potensi bagi dirinya untuk berprestasi. Karena jangankan kompetisi atau kejuaraan karate, yang berminat pada karate pun masih sangat sedikit. Sehingga belum tumbuh motivasi bagi dirinya untuk fokus menggeluti karate.

Memasuki tahun 1990, barulah karate mulai memasyarakat. Banyak perguruan dan dojo yang bermunculan. Bahkan dari anak-anak usia sekolah dasar pun memiliki semangat untuk berlatih. “Saat mendua memang tidak terfikir untuk menjadi atlet karate,”ujar pelatih Bantul dan DIJ ini.

Di mata Anggota Binpres Koni Bantul sekaligus Wakil Ketua Umum II Binpres Pengda Forki ini, karate memang berkembang cukup baik. Karate masih menjadi olahraga beladiri yang cukup populer untuk digeluti. Bibit-bibit prestasi pun bisa ditelurkan dari propinsi ini. Tapi soal prestasi, dirinya berharap ada perubahan sistem dan regulasi, baik itu di tubuh KONI maupun Pengda dan Pengkap Forki agar lebih bersinergi.

Selama puluhan tahun melatih, bertemu setiap hari dengan para calon-calon atlet, tidak sedikit mereka yang potensial ada dan muncul. Bibit-bibit yang sekarang ini ada, bisa sukses di PON 2016 dan gemilang di PON 2020. Tapi kalau tidak disokong sistem yang baik, di PON 2016 tidak akan sukses dan bisa jadi di PON 2020 sudah menghilang.

“Sistem dan cara membina yang harus disinergikan oleh pihak-pihak terkait, agar estafet atlet yang potensial tidak hilang,”ujar suami Hindun Iswanti ini.

Terlepas dari itu, pelatih Program Jangka Panjang (PJP) Bantul sejak tahun 2006 ini sudah bangga melihat kedua anaknya mengikuti jejaknya dan mendulang prestasi di karate. Anak sulungnya, Cindy Yukari Ginting telah beberapa kali menjadi juara di berbagai even kejuaraan dan anak keduanya, Gabriel Ginting yang kini masih kelas 3 SMA menempati rangking 1 DIJ.(dya/din/ong)