RADARJOGJA.CO.ID – BANTUL – Motif kasus pengeroyokan belasan remaja terhadap Dimas Putra, 18, warga Dodogan, Jatimulyo, Dlingo di simpang empat Desa Terong, Dlingo pada Selasa dini hari (4/7) lalu terungkap.

Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo memastikan perkara ini bukan kategori klithih. “Tak ada rencana,” jelas Angga, sapaannya, kemarin (5/7).

Angga, sapaannya, menjelaskan, perkara ini murni kenakalan remaja. Itu merujuk hasil pemeriksaan terhadap seluruh pelaku yang telah ditangkap selama dua hari terkahir. Menurutnya, polisi telah mengamankan sekaligus menetapkan delapan orang lagi. Mereka yang ditangkap di rumahnya masing-masing adalah R, 18; Y, 18; A, 16; L, 18; C, 17; A, 18; T, 17; dan N, 18.

Semuanya warga Piyungan. Dengan begitu, hingga sekarang polisi telah menangkap sepuluh orang. Sebelumnya, Hs, 17, dan Jun, 18, telah diamankan dulu.

Usut punya usut, bekas Kasat Res Narkoba Polres Sleman ini menguraikan, akar masalah dipicu provokasi salah satu pelaku berinisial R. Kepada teman-temannya R yang baru saja melewati simpang empat ini mengaku ditantang seorang warga di simpang empat Desa Terong. “Dia juga mengaku dikata-katain,” tuturnya.

Karena tersulut emosinya, seluruh anak baru gede (ABG) yang kebetulan tengah keluar bersama ini langsung menuju simpang empat. Di sini, para ABG ini langsung berbuat onar. Termasuk menyerang Dimas Putra. Padahal, R lah yang menantang seorang pemuda kala melintas di simpang empat. “Hanya mencari sensasi. Merasa mana yang paling jagoan,” lanjutnya.

Terkait senjata tajam (sajam), Angga mengungkapkan, hanya satu pelaku yang membawanya. Lainnya membawa batu sebelum berangkat melakukan penyerangan. “Luka yang dialami korban bukan sajam. Tapi terkena sabuk,” ujarnya.

Kendati sepuluh pelaku telah ditetapkan tersangka, polisi hanya menahan dua di antaranya. Sebab, delapan di antaranya masih di bawah umur. Lagi pula, anggota keluarga delapan tersangka ini bersedia menjadi jaminan andai mereka melarikan diri.

Menurutnya, para pelaku ini berasal dari Piyungan. Kendati begitu, mereka tidak berasal dari satu sekolah. Apalagi, satu geng. Mereka hanya teman bermain. “Kami jerat dengan Pasal 170 KUHP subsider Pasal 169 dan pasal 358 KUHP. Dengan ancaman minimal dua tahun dan maksimal tujuh tahun,” bebernya.

Guna menghindari kejadian serupa, Angga mengimbau seluruh guru dan orang tua turut mengawasi pergaulan anak mereka. Angga juga meminta orang tua tidak sembarangan membelikan sepeda motor. Mengingat, keberadaan sepeda motor inilah dapat menjadi pemicu awal terjadinya kenakalan remaja.

“Kalau pakai motor saat ada kegiatan yang penting saja. Seperti sekolah,” tegasnya.

Terpisah, Bupati Bantul Suharsono mengingatkan pendidikan anak tidak hanya tanggung jawab sekolah. Melainkan orang tua. Bahkan, tanggung jawab orang tua yang paling besar. Mengingat, sebagian besar waktu anak bersama keluarganya. Bukan sekolah.

Terkait sepeda motor, orang nomor satu di Bumi Projo Tamansari ini mewanti-wanti orang tua tak gampang memanjakan anaknya dengan membelikan sepeda motor. Walaupun berasal dari keluarga mampu.

“Nek sepeda motoran do ora duwe unggah-ungguh. Bleyer sak penake. Kui jenenge ora manjakne anak. Tapi, malah jlomprongne (kalau mengendarai motor tidak punya sopan santun. Motor digeber seenaknya. Itu namanya bukan memanjakan anak, tapi menjerumuskan),” ingatnya. (zam/ila/ong)